Latest News

DA'WAH FARDHIYAH

URGENSI DA’WAH FARDIAH


Pemerhati masalah kemanusiaan saat ini akan faham apa yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud: “Orang-orang sholeh akan pergi/wafat, dan akan tersisa orang-orang yang ragu, yang tidak tahu kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.”[1]
Kehidupan ini telah memburuk, kehidupan orang Islam menjadi sempit. Orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang menggenggam bara api karena hatinya tersiksa oleh kepedihan melihat keadaan yang ada, kelelahan dan kesusahan yang dihadapi manusia, dan secara khusus di kawasan ini yang pada saat yang lampau pernah menjadi bumi Islam. Lalu berada diantara kafilah budak. Orang-orang yang menyandang tanda dan gelar yang berbau Islam menjadi budak para thoqhut pengekor yang hina baik orang kafir dari timur maupun barat.[2]
Sungguh benar sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan Ahmad dari Abu Hurairah; Dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda kepada Tsauban “Bagaimana keadaanmu jika/saat bangsa-bangsa itu memperebutkan kalian, sebagaimana kalian memperebutkan sepiring makanan”. Tsauban berkata: “Demi bapak dan ibuku ya Rasulullah …, apakah karena kita sedikit?” Rasul bersabda: “Tidak kalian saat itu banyak akan tetapi kalian mengidap wahn. Mereka berkata: ”Apakah wahn itu ya Rasulullah?” Beliau bersabda: ”Cinta dunia dan takut mati”.
Keadaan yang menyakitkannya dihadapi manusia yang mengantarkannya kejurang kehancuran, setelah hancur jiwa kemanusiaan itu, telah hancur fitrah kemanusiaan, dan manusia telah merasakan kesusahan yang tak terkantukkan, gunung-gunung yang menjulang pun  tak mampu menanggungnya. Dalam keadaan seperti ini barangkali ada yang bertanya: Apa solusai bagi manusia  menghadapi krisis dan kesusahan yang menghimpitnya...? Jawabanya telah ada dari Tuhan semesta alam: “Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan susah.”[3] Jadi Islam adalah solusi, dan tak ada penyelamat selain dari Islam selamanya.
Kembali sipenanya berkata: ”Bagaimana mungkin Islam bisa menerima kendali kemanusiaan itu …?”
Jawabannya ada dalam kitab Al-Qur’an yang mulia, ”Dan hendaklah ada diantara kalian yang menyeru pada kebaikan dan memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah oang-orang yang beruntung.”[4] … Maka tidak boleh tidak kita harus membina umat dan mentarbiahnya dengan ajaran Islam  untuk memandu langkah-langkah manusia yang tersiksa menuju kebahagiaan dan ketenangan.[5] … Umat ini tidak akan terbina kecuali dengan dakwah yang ikhlas karena Allah swt. Da’wah yang dilakukan sebuah jamaah yang meyakini bahwa tidak ada solusi bagi manusia kecuali dengan Islam, yang meyakini bahwa pilar Islam tidak akan tegak kecuali jika diemban oleh sekelompok manusia dan menebusnya dengan arwahnya. Dengan demikian jamaah itu bekerja untuk Allah siang malam. Tidak menyerah, tidak bosan, sehingga bisa menyampaikan da’wahnya dengan cemerlang lagi jelas kepada hati setiap Muslim di muka bumi. Jamaah itu adalah sebuah jamaah yang membuat seseorang itu lupa akan dirinya demi da’wah dan agamanya. Seakan-akan dia tak punya jiwa, tabi’at, dan hawa nafsu, lupa urusan makan, minum, dan pakaiannya, melupakan dirinya sendiri, ingat urusan makhluk Tuhan swt. Keluar dari lingkungan dirinya dan semua makhluk bersama hati nuraninya menuju Tuhannya, semua permintaannya demi manfaat makhluk. Dia menyerahkan dirinya pada putusan Tuhannya, Allah swt.[6] … Inilah contoh juru da’wah …inilah sifat orang yang ingin termasuk kedalam qaidah pokok  yang berdiri di atasnya bangunan Islam sekarang…dan demi Allah, da’wah tidak akan berhasil, tak akan sampai jika kita hanya memberikan sisa-sisa waktu kita dan belum bisa melupakan dari urusan makan  kita.[7]
Jika da’wah mempunyai sarana-sarana umum yang bermacam-macam : Ceramah kajian, media massa: Seperti buku, koran, majalah…, maka da’wah fardiah adalah bagian penting dari unsur-unsur da’wah itu, bahkan merupakan bagian terpenting. Dalam da’wah fardiah seorang da’i menyertai seorang obyek da’wah, menyingkapkan rahasia dirinya, memperhatikan aib-aibnya, lalu meluruskan aibnya satu persatu sehingga bisa menjadikannya bersih dan suci, kemudian memenuhi hatinya dengan iman, melalui indranya untuk melakukan keta’atan: Sholat, puasa, tahajjud, dzikir, dan membaca Al-qur’an. Kemudian setelah itu memberitahukan kepadanya keadaan umatnya, mengingatkannya bahwa bekerja untuk Islam adalah fardu ‘ain pada saat ini. Setelah itu dia akan meletakan telapak kakinya diatas jalan yang benar dan menemaninya berangkat menuju ridha Allah swt. Sungguh benar Rasulullah saw ketika bersabda: “Sesungguhnya keberadaanmu sebagai perantara bagi hidayah Allah kepada seseorang lebih baik bagimu daripada bumi seisinya”.
Da’wah Fardiah mempunyai beberapa keistimewaan dibandingkan dengan sarana da’wah yang umum, diantaranya:
1.     Da’wah Fardiah bisa dilakukan dalam setiap keadaan dan tidak mungkin  terasa sempit untuk melaksanakannya.
2.     Da’wah Fardiah menimbulkan hubungan dan ikatan dengan obyek da’wah, beda dengan da’wah umum, seperti ceramah dan kajian yang tidak menimbulkan hubungan secara langsung antara da’i dan mad’u.
3.     Da’wah Fardiah menghasilkan bagi pelakunya pengalaman melakukan da’wah kepada Allah yang merupakan salah satu kewajiban yang utama.
4.     Da’wah Fardiah mendorong pelakunya untuk produktif dan mencari bekal yang membantunya untuk bekerja dengan baik.
5.     Da’wah Fardiah mendorong pelakunya untuk menjadi teladan bagi orang lain.
6.     Da’wah Fardiah memberikan kesempatan kepada mad’u untuk menanyakan setiap hal yang mengganjal dan menghilangkan keraguan dalam dirinya sehingga tercapai proses dengan cemerlang.
7.     Hasil dari Da’wah Fardiah memungkinkan menjadi berlipat ganda dalam waktu yang pendek.
Kita perhatikan masalah ini : 
Jika seseorang memulai da’wah fardiah dengan benar lalu tiap satu tahun dia dia bisa menggaet seorang temannya …kemudian dua orang ini berangkat da’wah supaya menjadi empat orang pada tahun berikutnya jadi berapakah jumlah mereka setelah 10 tahun?!… apakah engkau membayangkan jumlah mereka akan menjadi 1000 orang lebih?!… kalau 1000 orang ini  melakukan da’wah selama 10 tahun lagi berapakah jadinya jumlah mereka?!… saya lihat anda tidak yakin bahwa jumlah mereka akan lebih dari 1 juta orang?!…kalau mereka yang satu juta itu  melakukan da’wah selama 10 tahun sampai berapakah hasilnya? Apakah anda yakin bahwa jumlah itu akan mencapai 1 milyar orang? Saya yakin bahwa anda tidak akan percaya akan kemampuan satu orang untuk bisa menyampaikan Fikrohnya dengan da’wah fardiah kepada 1 milyar orang dalam waktu kurang dari 30 tahun…jika anda ingin meyakinkan diri anda sendiri bukalah halaman berikut dan bacalah perhitungan berikut berturut-turut…

TABEL DA’WAH FARDIAH

Tahun   Jml anggt   tahun   Jml anggt   Tahun   Jml anggt  Tahun  Jml anggt  Tahun  Jml anggt                                                                                                    
    1              2             7          128             13        8192            19     524288        25     3355442
    2              4             8          256             14        16284          20     1084567      26     67108864
    3              8             9          512             15        32678          21     2097152      27     13421772    
    4             16           10         1024           16        65536          22     4144304      28     268435456
    5             32           11         2048           17        131072        23     8388608      29     526870912             
    6             64           12         4096           18        262144        24     16777216    30     10737 41824

Aku kira anda sekarang sepakat denganku bahwa da’wah fardiah adalah masalah yang penting dan krusial.
Kalau begitu apa yang akan anda lakukan untuk memulai da’wah kepada Allah? Marilah kita bersama membahas masalah ini untuk mengetahui seluk beluk da’wah fardiah. Tahapan-tahapan dan langkah-langkahnya yang beraneka ragam.
Kita memohon kepada pertolongan Allah, ampunan dan Ilham-Nya menuju jalan petunjuk.

 

KEDUA

PERSIAPAN SEORANG DA’I

1.     Pengawasan hati
2.     Ikhlasul amal
3.     Sifat Da’i yang jujur
4.     Perbaiki dirimi dan da’wahi yang lain.

HENDAKLAH HATIMU BERSAMA ALLAH

           Sesungguhnya seorang hamba akan kuat beribadah dan da’wah jika dia menguasai hawa nafsunya. Jika tidak maka hatinya akan dikuasai oleh syahwatnya, ditawan oleh hawa nafsunya, dan syaithon mendapatkan tempat dalam hatinya, bagaimana dia akan bisa lepas dari bisikan-bisikan dan pemikiran-pemikiran? Apalagi keinginan untuk melakukan da’wahkepada Allah.
Hati itu ada tiga macam:
¨       Hati yang sepi dari iman. Itulah hati yang gelap, sehingga syaithan pun bisa istirahat dan menghembuskan bisikan-bisikan jahat padanya, karena syaithan telah berhasil menjadikan hati itu sebagai tempat tinggalnya dan bahkan negerinya.
¨       Hati yang bersinar dengan cahaya iman, dan dia menyalakan lampu iman di dalamnya, akan tetapi di dalamnya masih ada kegelapan syahwat dan perilaku-perilaku hawa nafsu. Dalam keadaan yang demikian syaithan masih punya kesempatan, antara ya dan tidak, tempat peluang dan harapan-harapan.
¨       Hati yang penuh dengan iman, bercahaya dengan cahaya iman, hijab syahwat telah menghilang dan kegelapanpun telah meninggalkannya. Dadanya bercahaya, cahaya itu akan membakar was-was/keraguan yang mendekat.[8]
Saudaraku sebagai seorang Da’i maka hendaklah hatimu jadi seperti hati yang ke tiga yang penuh dengan iman. Padahal iman pada hakikatnya adalah masalah yang sebenarnya. Iman adalah hal terpenting, bahkan segala-galanya bagi manusia, mausia tanpa iman, tak ada artinya. Kehidupan yang hakiki bagi manusia adalah hatinya yang hidup dengan iman, dan bukan kehidupan jasadnya sebagaimana binatang.  
Ketika iman memenuhi hati, dia akan merubah pemiliknya dengan perubahan yang mendasar dan menyeluruh, meluruskan cara pandang, standar dan timbangan-timbangan sehingga semuanya menjadi rabbaniyah sesuai dengan agama Allah.
Iman yang benarakan memancarkan segala kebaikan, kesabaran, kuat menanggung beban, pengorbanan, jihad, dan cinta kesyahidan pada diri pemiliknya.[9]
Saudaraku, awasilah hatimu, jadikanlah ia selalu berhubungan dengan Allah swt penuh dengan cinta dan ikhlas kepada-Nya baik dalam keadaan sendiri maupun terang-terangan. Waspadalah agar engkau tidak melupakan Allah sehingga Allah tidak membiarkanmu, kemudian dia menjadikanmu melupakan dirimu sendiri.
Imam Hasan Al-Banna rahimahullah berkata: “Wahai saudara-saudara, aku tidak takut terkumpulnya dunia atas kalian, akan tetapi aku takutkan atas kalian dua hal: aku takut kalian melupakan Allah, sehingga Allah membiarkan  kalian, atau melupakan persaudaraan diantara kalian sehingga terjadi pertikaian diantara kalian.”[10]
Saudaraku engkau harus hitung-hitung dirimu, meluruskannya, mencelanya, sehingga istiqomah terhadap kebenaran, menempuh jalan yang lurus dan hendaklah setiap kita menghapal perkataan Umar Al-Faruq ra. “Hisablah diri kalian sebelum diri kalian dihisab, dan timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang.”
Jika engkau selalu berlaku adil terhadap jiwamu, mencelanya jika mlakukan kesalahan, dan menegurnya maka jiwamu adalah jiwa yang selalu mengingatkanmu (nafsu lawamah) yang Allah bersumpah dengannya. Engkau berharap akan menjadi nafsu muthmainah yang dipanggil untuk masuk kedalam golongan hamba-hamba Allah dalam keadaan ridho dan diridhoi, maka janganlah engkau lalai sesaatpun untuk mengingatkannya. “Wahai nafsu yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridho dan diridhoi.” (QS. Al-Fajr : 28)[11]
Saudaraku ketahuilah bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Berjanjilah untuk melakukan hal-hal yang menambah iman. Ingatlah Tuhanmu dalam keadaan berdiri, duduk dan jalan, bacalah Al-Qur’an, hafal dan ulangilah. Tegakkanlah kedua kakimu sesaat ditengah malam bermunajat kepada Tuhanmu, memohon kepada-Nya untuk menetapkanmu pada jalan-Nya yang lurus, usahaknlah untuk selalu berada di tengah-tengah saudaramu, meminta bantuan dan nasehat, perbanyaklah dzikir, mengingat mati, hari kiamat, saat menghadap Allah, ingatlah surga dan neraka, hisab dan shirath, karena hal itu akan melembutkan hati.
Pernah datang seorang perempuan kepada Aisyah ra mengadukan hatinya yang keras, lalu beliau berkata: “Perbanyaklah mengingat mati.” Mereka berkata: “Lalu dia memperbanyak dzikrul maut dan hatinya menjadi lembut.”
Dan pernah datang kepada Hasan Al-Bashri seorang lelaki, dia berkata: “Wahai Abu Said, aku mengadukan kepadamu akan hatiku yang keras”, dia menjawab, “Leburlah dia dengan dzikir.”[12]
Demikianlah saudaraku, jadikanlah hatimu selalu bersama Allah, usahakanlah selalu bermuhasabah, perbaharuilah selalu imanmu dengan dzikir dan taat...sesuaikanlah hati dengan lisan sebagaimana Rasulullah saw mengajarkan kepada Muadz bin Jabal ketika beliau bersabda: “Demi Allah, wahai Muadz sungguh aku mencintaimu, janganlah lupa setiap selesai shalat untuk mengucapkan, ya Allah bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”[13]

IKHLASLAH DALAM BERAMAL

MAKA AKAN CUKUP BAGIMU WALAU SEDIKIT
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada jasad dan bentukmu, akan tetapi Allah melihat hati dan amalmu.”
Demikianlah Rasulullah saw mengingatkan kita agar tidak terjadi saat Allah melihat hati kita Dia mendapati tujuan selain-Nya, agar tidak terjadi saat melihat amal kita lalu Dia mendapatkan sesuatu yang membuatn-Nya marah. Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlash semata-mata karena-Nya. Allah swt tidak memerlukan bantuan, maka barang siapa melakukan suatu amal lalu menyertakan Allah bersama yang lain-Nya maka amal itu bagi yang lain.
Untuk itu Rasulullah saw takut umatnya akan melakukan amal yang tidak ikhlash karena Allah sebagaimana dalam sabdanya, “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Mereka berkata: “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya”. Allah swt berfirman: “Jika hamba-hamba itu berpahala dengan amal-amalnya, maka pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya kepada mereka di dunia, lihatlah apakah kalian akan mendapatkan balasan di sisi mereka?”[14]
Begitu juga para sahabat memperhatikan untuk selalu beramal dengan ikhlash karena Allah swt, membersihkan jiwa mereka dari riya dan juga orang-orang yang ada di sekitar mereka. Perhatikanlah peringatan sahabat Ali ra, “Sesungguhnya orang yang melakukan riya mempunyai tiga tanda:
¨       Bermalas-malas jika sendirian
¨       Rajin jika berada di tengah orang banyak
¨       Menambah amalnya jika dipuji dan mengurangi amalnya jika dicela”
Imam Syahid melakukan hal serupa, dia menjadikan ikhlash sebagai satu rukun yang penting diantara rukun-rukun da’wah...perhatikanlah perkataannya: “Aku maksudkan dengan ikhlash adalah seorang akh muslim menujukan perkataan, amal dan jihadnya semua kepada Allah swt, mengharap ridha dan sebaik-baik balasan dari-Nya tanpa melihat keuntungan, penampilan, kehormatan, gelar, menjadi yang terdepan ataupun sebaliknya, dengan demikian dia akan menjadi pembela fikrah dan aqidah, bukan pembela keinginan dan keuntungan. Allah swt berfirman: “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah Tuhan semesta alam, tidak ada syarikat baginya dan demikianlah aku diperintahkan.”[15]
Tanpa ikhlash maka amal jadi batal, dan sebatas keikhlasan, kelapangan dada, dan kesabaran dalam melaksanakannya sebatas itulah berkah, taufiq, kesuksesan dan hasil insya Allah.
“Dan hendaklah seorang akh sebagai da’i mengetahui bahwa unsur terpenting yang membantunya untuk melaksanakan kewajiban sebaik-baiknya, dan untuk mendapatkan  taufiq dari Allah swt adalah ikhlash karena Allah serta kebersihan hatinya dari setiap apa yang menghalangi ikhlash; seperti ghurur, riya, dan keinginan untuk selalu jadi perhatian dan lain-lain, khususnya seorang da’i sangat memungkinkan untuk bersinggungan dengan fitnah jika dia mendapatkan pengaruh yang besar di masyarakat, kekaguman mereka kepadanya dan berkumpulnya mereka di sekelilingnya.”[16]
Saudaraku, awasilah dengan sungguh-sungguh lubuk hatimu, carilah dalam relung-relung jiwamu, jika kamu mendapatkan setitik riya, segeralah luruskan niatmu dan teruslah beramal, janganlah tinggalkan amal karena takut riya, perhatikan pengarahan ulama salaf kepada kita:
“Sesungguhnya meninggalkan amal karena manusia adalah riya
sedang beramal karena manusia adalah syirik...!
Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik terhadap-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak kami ketahui. Ya Allah bersihkanlah hati kami dari sifat nifaq dan amal-amal kami dari riya. Ya Allah jadikanlah amal kami semuanya sebagai amal shaleh, jadikanlah amal itu ikhlash karena-Mu dan janganlah Engkau jadikan bagi seorangpun padanya syarikat. Amin.
 
JADILAH SEPERTI INI
Seorang Da’i adalah unsur penting dari unsur-unsur da’wah. Dan pada hal inilah perhatian Rasulullah saw terfokus dengan membina  da’i–da’i untuk Islam, menyebar luaskan Islam di timur dan barat. Itulah kesibukan beliau selama 23 tahun, umur da’wah beliau.
Dan tidak mungkin bagi seorang da’i untuk mencapai apa yang diinginkan kecuali dia berakhlak dengan akhlak da’i yang pertama saw dan mengikuti manhaj Nabi, untuk itu dia perlu berhias dengan beberapa sifat dasar, kami sebutkan secara global:
1.     Iman: Iman adalah dasar segalanya, syarat diterimanya amal, dan juga syarat suksesnya da’wah (sesungguhnya ideologi dan fikroh -tanpa akidah sebagai pendorong- hanyalah merupakan kata-kata tak bermakna, yang menjadikannya bermakna dan hidup adalah hangatnya iman yang memancar dari hati manusia, orang lain tidak akan meyakini suatu ideologi atau fikroh yang lahir dari hati yang dingin bukan pada hati yang memancarkan kekuatan. Yakinlah engkau dengan ideologimu dulu … yakinlah sampai batas keyakinanmu yang kuat, ketika itu maka orang lain akan yakin dengan ideologi/fikrohmu jika tidak maka hanya akan tinggal penggalan-penggalan kata-kata yang sepi/sunyi tanpa ruh.[17]
2.     Ilmu: “Tidak diragukan lagi bahwa da’wah/ajakan kepada kebaikan dan puncaknya adalah da’wah kepada Allah salah satu syaratnya adalah ilmu. Tidak ada khilaf diantara para ahli fiqih bahwa orang yang tidak tahu tentang sesuatu atau tidak tahu hukumnya maka dia tidak boleh mengajak orang pada hal tersebut karena pengetahuan tentang kebenaran apa yang dida’wahkannya adalah syarat untuk kebenaran da’wah.
Akan tetapi ilmu bukanlah satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Secara alami dan manusiawi pengetahuan itu bersifat parsial. Ada orang yang memahami satu masalah akan tetapi dia tidak memahami masalah yang lain… Berdasarkan masalah ini maka tiap-tiap muslim berda’wah kepada Allah berdasarkan apa yang dia ketahui.”[18] Demikianlah sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah saw: ”Sampaikanlah dariku walau satu ayat....”[19]
Maka sudah sewajarnya/wajib bagi seorang da’i untuk berbekal selalu dengan ilmu, tekun menghadiri kajian-kajian, membaca buku-buku, mendengarkan kaset ceramah, membaca makalah-makalah, bulletin-bulletin, tadabbur ayat, manemui saudara-saudaranya yang lebih tua untuk belajar dari mereka, menulis kajian-kajian, makalah-makalah, dan lain-lain.
3.     Amal: Unyuk mencapai cita-cita yang besar yang kita inginkan, membutuhkan orang-orang yang berjiwa besar yang mempunyai keinginan kuat, pengorbanan yang besar, dan iman yang kuat. Karena tanggung jawab para da’i terhadap dirinya sendiri jauh lebih besar daripada tanggung jawabnya terhadap masyarakat dan bahaya lalai (taqshir) mengerjakan kewajiban bagi da’i terhadap dirinya sendiri melebihi bahaya kelalaiannya menunaikan hak-hak masyarakat…Para da’i seharusnya menjadi teladan yang baik bagi masyarakat di sekitarnya. Kelihatan dalam kehidupannya sehari-hari sebagai orang ta’at dengan melaksanakan syari’at Islam yang merupakan tujuan da’wahnya. Dengan demikian orang yang ada disekitarnya merasakan adanya bukti nyata terhadap apa yang dia da’wahkan, bukan sekedar angan-angan, sehingga akan menimbulkan kesan yang mendalam.[20]
4.     Jujur dan Amanah: Jujur dan amanah adalah dua sifat mendasar diantara sifat-sifat seorang da’i yang diakui oleh kaum Quraisy pada diri Rasulullah saw sehingga mereka memberi gelar beliau dengan Ash-Shodiq dan Al-Amin. Jika engkau perhatikan, dua sifat tersebut merupakan sifat para Nabi dan Rasul. Itu juga diucapkan oleh Ifrit salah satu Jin Nabi Sulaiman,: “Dan sesungguhnya aku kuat untuk menunaikannya.”[21] Perhatikan juga putri Nabi Syu’aib Ketika mengharapkan Musa as menjadi suaminya dalam perkataannya, “Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat dan terpercaya.”[22]
5.     Ikhlas: Sesungguhnya setiap da’i kepada Allah wajib menyatakan dengan hati sebelum dengan mulutnya “Aku tidak akan mengharapkan kecuali perbaikan selama aku mampu, dan tiadak ada yang memberiku taufiq melainkan Allah.” [23]
6.     Kasih sayang: Allah SWT berfirman: ”Dan tidaklah aku mengutusmu kecuali sebagai rahmat kepada sekalian alam.”[24] Rahmat dalam akidah, tasyri dan akhlak.
Nabi saw bersabda kepada Aisyah ra: ”Berlakulah lemah lembut dan janganlah keras dan kasar, sesungguhnya lemah lembut pada sesuatu akan menghiasinya dan hilangnya lemah lembut dari sesuatu akan menjadikannya kaku.”[25] Sungguh benar Rasulullah saw ketika berkata kepada Al-Asyja’ ra: ”Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang disukai oleh Allah: lemah lembut dan ...”[26]
7.     Sabar:
Sesungguhnya penyeru kepada Allah swt. Sangat memerlukan sikap ini. Karena sudah merupakan sunatullah bahwa para da’i mempunyai banyak musuh yang membuat makar, tipu daya dan mengintai mereka. Kalau sabar adalah merupakan hal penting bagi semua manusia terutama orang muslim maka sifat sabar bagi seorang da’i lebih penting lagi dibanding bagi yang lain. Karena dia bekerja dalam dua bidang/lapangan sekaligus;
¨       Dirinya sendiri, mengajak dan membawanya untuk taat, dan mencegahnya dari maksiat kepada Allah.
¨       Lingkungan diluar dirinya yaitu lapangan da’wah…..
Untuk itu seorang da’i memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi dalam dua lapangan tersebut sehingga dia bisa melewati rintangan-rintangan dan menanggung kesulitan-kesulitan. Jika dia kehilangan kesabaran, dia akan berhenti atau menarik diri dari lapangan da’wah dan membuatnya kehilangan pahala. [27]
8.     Bersemangat dalam berda’wah dan  berkorban dalam lapangan da’wah
Begitulah Allah swt memberikan sifat kepada Nabi saw: ”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri berat olehnya pemderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu”.[28]…Memang beliau sangat menginginkan kaumnya agar beriman, semua kaumnya, oleh karena itu beliau sangat bersedih hati jika menemui halangan-halangan dan penolakan-penolakan. Allah swt berfirman: “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kapada keterangan ini.”[29]
Seoang da’i kepada Allah sangat mengharapkan kebaikan obyek da’wahnya, akan tetapi dia tidak boleh bersedih hati atas hasil kerjanya dan buah perjuangannya. “Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).”[30]
“Bukanlah kewajibanmu memberi hidayah kepada mereka, akan tetapi Allah yang memberi hidayah kepada yang Dia kehendaki,”[31]
Buah dari keinginan yang besar ini adalah bahwa seorang da’i berkorban demi untuk menyampaikan da’wahnya, mengorbankan waktu dan tenaganya, harta dan waktu luangnya, mengorbankan semua yang dia mampu demi menyampaikan da’wahnya.
9.     Cita-cita dan percaya dengan pertolongan Allah.
Sesungguhnya penyeru kepada Allah imannya kuat dan keyakinannya akan kemengan agama ini besar. Dia yakin dan percaya bahwa Islam harus menang meskipun melawan makar musuhya, dan walaupun “Orang-orang kafir menafkahkan harta-harta mereka untuk menghalangi dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke neraka jahannamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.”[32]
Sesungguhya ini adalah janji Allah dan ketetapan-Nya sejak azali pada makhluk-Nya. “Allah telah menetapkan : “Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [33]
Sesungguhnya keyakinan kita bahwa masa depan adalah untuk agama ini memberikan kepada kita harapan yang mendorong kita untuk bekerja sungguh-sungguh agar sampai kepada kemenangan yang pasti. Hal ini tak akan terjadi kecuali jika kita mengangkat diri kita ke tingkatan agama ini…
Sesungguhnya para da’i, saat ini mereka ibarat pembawa cahaya di tengah umat dalam gelap malam yang panjang dan ibarat orang yang terbangun  di tengah umat yang terlambat tidur merupakan harapan duania di masa yang gersang dari rasul-rasul pembawa rahmat dan keyakinan dan penuh dengan kepalsuan dan atheisme.[34]
10.  Kesadaran dan paham:
Tidak diragukan lagi bahwa kegiatan seorang da’i itu luas, penyebarannya luas dan hubungannya banyak. Dia juga bertemu dengan beragam tipe manusia, masing-masing dengan karakteristik dan pengetahuannya…….Maka dia harus mengenali tingkat pemahaman mereka dan sedikit memahami lebih dalam, baik berupa pengetahuan agama, fikroh, politik ataupun gerakan.
Sesungguhnya seorang da’i  sangat membutuhkan: ikhlas dalam beramal, benar dalam mengambil manhaj dan kejelasan dalam pemikirannya, kuat dalam berhujjah/menjelaskan dasar pemikirannya berdasar Nash, serta dalil Aqli kepada masyarakat, mengerti keadaan masyarakat, mengerti serta faham dengan da’wah sehingga tercapai syarat-syarat seorang da’i yang berhasil.[35]
Memang ini adalah sifat-sifat seorang da’i yang jujur yang harus dia pakai sebagaimana Rasulullah saw menyitirnya dalam wasiatnya kepada Muadz bin Jabal ketika dia diutus ke Yaman sebagai da’i, guru, dan sebagai amir: “wahai Muadz …. Aku berwasiat padamu,
1.     Bertaqwalah kepada Allah
2.     Benar dalam berbicara
3.     Menepati Janji
4.     Menunaikan amanah
5.     Meninggalkan khianat
6.     Menjaga hubungan baik dengan tetangga
7.     Mengasihi anak yatim
8.     Lembut dalam berbicara
9.     Mengucapkan salam
10.  Baik dalam bekerja
11.  Tidak panjang angan-angan
12.  Tetap menjaga keimanan
13.  Percaya dengan Al Qur’an
14.  Cinta akhirat
15.  Takut dengan hisab di akhirat
16.  Merendahkan diri
17.  Dan aku melarangmu untuk memaki hakim atau mendustakan orang yang jujur, atau menaati pendosa, atau melawan Imam yang adil atau membuat kerusakan di muka bumi.
18.  Mewasiati padamu untuk taqwa kepada Allah swt pada setiap lubang, batang pohon
19.  Dan bahwa setiap dosa ada taubatnya, …. Rahasia dengan rahasia, terang-terangan dengan terang-terangan.”[36]

MULAILAH DENGAN DIRIMU SENDIRI

Umar ra berkata: “Sesungguhnya Allah swt mempunyai tentara/pembela yang menghidupkan kebenaran dengan dzikir kepada-Nya dan membunuh kebatilan dengan menjauhinya.”
Sesungguhnya kita tidak akan jujur dalam da’wah kita, kecuali jika kita menjadi tauladan yang baik dalam tingkah laku dan akhlaq kita. Apa arti ajakan orang dholim untuk berlaku adil kepada orang yang terdholimi, bahkan apa arti ajakan pembohong untuk berbuat jujur dan ajakan orang yang menyimpang untuk berlaku istiqomah; sungguh itu adalah ajakan yang tidak bermakna, bahkan akan meninggalkan kesan yang buruk pada diri obyek da’wah.[37]
Sesungguhnya kata-kata tetap akan mati tak berarti walaupun disampaikan oleh orang yang bersemangat jika tidak muncul dari hati yang yakin dengan apa yang dia sampaikan.
Dan seorangpun tak akan yakin dengan apa yang dia katakan kecuali  jika dia bisa  merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika itulah orang akan  yakin, percaya walaupun kata-katanya tanpa intonasi layaknya orator. Karena dia mengambnil sumber kekuatannya dari kenyataan kesehariannya bukan dari sekedar  gaya bicara dan kemampuan orasinya, menyandarkan keindahan kata-katanya dari kejujurannya bukan dari gayanya yang meledak-ledak. Ketika itu tidak mungkin menolaknya, karena dia memancar dari kehidupan itu  sendiri.[38]
Waspadalah akan kemarahan Allah swt....Sesungguhnya Allah mengingatkan kaum mu’min dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan. Sungguh besar kemarahan Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan.”[39]
Allahpun mencela bani Israil dengan firman-Nya: ”Apakah kalian menyuruh manusia berbuat baik sedangkan kalian melupakan diri sendiri.” [40]
Rasullullah juga mengingatkan kita agar perkataan kita tidak menyimpang dari perbuatan kita. Diriwayatkan dari Usman bin Zaid ra, dia berkata: “Rasulullah saw bersabda  Didatangkan seorang laki-laki pad hari Qiamat lalu dilemparkan ke neraka maka berceceranlah isi perutnya, lalu ia berputar sebagaimana keledai berputar pada alat penggilingan, maka berkumpullah penghuni neraka disekitarnya bartanya padanya, Wahai Fulan apa yang terjadi padamu? Bukankah kamu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran? Dia menjawab: “Betul aku dulu menyuruh kepada kebaikan tapi aku tidak melakukannya dan aku mencegah kemungkaran tapi aku melakukannya.”[41]
Mari kita perhatikan Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Barangsiapa menjadikan dirinya sebagai Imam bagi orang lain maka dia harus mengajar dirinya sendiri sebelum mengajar orang lain, dan hendaklah dia mendidik dengan tingkah lakunya sebelum mendidik dengan lisannya.”[42]
Sesungguhnya pergaulan kita terhadap kaum muslimin dengan akhlaq Ukhuwah Islamiyah lebih berkesan dan efektif untuk menarik mereka pada da’wah  kita daripada cara yang lain.
Untuk itu maka seorang da’i harus menjadi teladan yang baik, ramah, lunak, lembut dan muamalah yang baik. Karena teladan dalam kehidupan sehari-hari mempunyai kesan yang kuat sehingga orang mengikuti  apa yang dida’wahkan padanya.
Seorang da’i harus menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan/perilaku-perilaku yang menyimpang dari apa  yang dia da’wahkan agar dia tidak mendapat murka Allah dan agar tidak terjadi penurunan semangat pada diri orang-orang yang dia da’wahi ketika melihatnya menyimpang dari apa yang dia da’wahkan.[43]

Mari kita perhatikan pada perkataan seorang penyair ahli hikmah

Wahai lelaki yang mengajar orang lain
Kenapa tidak untuk dirimu sendiri ajaran itu
Kau buat resep obat untuk orang sakit
Agar dia sehat tapi dirimu sendiri sakit
Mulailah dengan dirimu sendiri & cegahlah dari penyimpangan
Jika dirimu berhenti maka engkau orang bijaksana
Maka disana ada yang menerima jika engkau ingatkan dan menurut
Berdasar logika darimu & kemanfaatan ajaranmu
Janganlah engkau mencegah sesutu tapi engkau melakukannya
Aib besar atasmu jika engkau lakukan itu.
Satu hal yang mudah untuk memberikan ceramah tentang Islam, atau mengadakan seminar tentang ajaran Islam, atau menyusun  buku tentang kesempurnaan, kelengkapan ajaran, keluasan cakupan dan universalitas Islam, akan tetapi itu semua berubah menjadi tinta di atas kertas selama yang kamu ceramahkan atau kamu tulis tidak berubah menjadi kenyataan yang bisa dilihat manusia dengan jelas. Ketika itulah pemikiran-pemikiran, baris-baris tulisan kata berubah menjadi gerakan dan kehidupan sehari-hari yang diyakini oleh orang-orang yang dadanya dilapangkan oleh Allah swt untuk ber-Islam.[44]
Syi’ar kami selalu untuk ini, memperbaiki diri sendiri, membersihkannya dan komitmen pada jalan Tuhannya, bersama da’wah, kerja, jihad serta pengorbanan ….. maka hendaklah kita hafal bisikan ini dan selalu kita jadikan syi’ar kita, itulah syiar keselamatan …. Ulangilah saudaku,
“perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain”.

BERCAMPUR TAPI BERBEDA

Beberapa orang laki-laki keluar tidak jauh dari kota Kufah untuk beribadah. Sampailah berita itu kepada Ibnu Mas’ud lalu beliau mendatangi mereka, katanya: ”Apa yang membuat kalian melakukan hal itu?” Mereka menjawab: ”Kami ingin pergi dari keramaian manusia untuk beribadah.” Beliau berkata: ”Kalau seandainya manusia melakukan apa yang seperti kalian lakukan lalu siapa yang memerangi musuh? Saya tidak akan pergi sampi kalian kembali.” [45]
Begitulah Ibnu Mas’ud memahami bahwa tidak ada agama tanpa da’wah...dan tidak ada yang namanya da’wah selamanya dalam uzlah.
Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Seorang mu’min yang hidup di tengah manusia dan bersabar atas perbuatan mereka lebih baik daripada seorang mu’min yang tidak bersama mereka dan tidak bersabar atas perbuatan mereka”.
Kalau begitu langkah pertama dari da’wah adalah tinggal bersama masyarakat. Hidup dimasyarakat kita dan bukan uzlah, bahkan hidup ditengah-tengah mereka untuk memperbaiki dan meluruskan mereka…sesungghuhnya kita, ketika kita menjauhi manusia karena merasa lebih baik atau lebih bersih ruhiah kita atau lebih baik hati kita daripada mereka, atau jiwa kita lebih lapang dari pada mereka, atau lebih cerdas, maka kita tidak melakukan sesuatu yang berarti…kita tidak memilih untuk diri kita jalan yang termudah dan yang lebih sedikit bekal.
Sesunggghuhnya keagungan yang hakiki adalah bergaul dengan masyarakat penuh dengan jiwa yang lapang/toleran, lemah lembut atas kelemahan, kekurangan, dan kesalahan mereka, jiwa yang penuh harap untuk membersihkan, membekali pengetahuan dan mengangkat mereka pada level kita sekuat tenaga.[46]
Sesungguhnya ketika kita mengajak kaum muslimin yang untuk meluruskan pemahaman mereka tentang Islam, mereka harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari kita dan kita bagian dari mereka. Kita tidak menganggap bahwa kita adalah masyarakat muslim yang eksklusiv, karena yang demikian itu memisahkan kita dari mereka dan berakhirlah semua…[47]
Akan tetapi bersamaan dengan pergaulan kita di tengah masyarakat, kita harus tetap menjaga integritas kita sebagai syakhsiyah islamiyah yang berbeda dari mereka, dan yang demikian itu tidak akan terjadi kecuali jika kita peduli dengan agama kita, khawatir akan berkurang kadar keimanan kita akibat dari bergaul dengan masyarakat. Dan alangkah benarnya perkataan Ibnu Mas’ud: ” Bergaulah dengan manusia-manusia itu, ikutilah keinginan mereka, janganlah kamu cederai agamamu.”[48]
Bergaul dengan mereka bukan berarti mengikuti mereka dalam perbuatan yang melanggar syariat…kita  harus komitmen dengan keislaman kita, mempertahankan dan mengangkat panjinya, kita harus menempatkan diri kita “jika orang lain berbuat baik kita pun berbuat baik, dan jika mereka berbuat jelek maka kita menjauhi perbuatan mereka”.
Kita ketahui dengan baik bahwa bani Israil ditimpa azab karena hal tersebut,…ketika ada seorang laki-laki menemui yang lain berbuat maksiat dia menegurnya: “Wahai Fulan takutlah pada Allah”, Kemudian dia menemuinya lagi pada esok harinya masih tetap melakukan maksiat lalu dia tidak melarangnya, bahkan dia menjadi teman makan dan minumnya…ketika mereka melakukan hal itulah Allah swt menimpakan azab atas mereka.
Disini bukan berarti  bahwa kita harus meninggalkan orbit kita yang tinggi, dan keteladanan kita yang mulia, atau menjadi bos mereka dan memuji perbuatan mereka yang tercela, atau kita bersikap kepada mereka sehingga mereka merasa bahwa kita lebih tinggi derajatnya daripada mereka…Sesungguhnya menyatukan antara hal-hal yang berlawanan ini dan kelapangan dada sebagai tuntutan dari penyatuan tersebut memerlukan kerja berat dan itulah keagungan yang hakiki.[49]
Kita tidak mengajak untuk uzlah (menyendiri), sama sekali tidak mengajak pada hal tersebut selamanya, akan tetapi meskipun demikian kita tidak bisa menerima bahwa pergaulan kita dengan masyarakat menyebabkan kita terlepas dari dasar-dasar manhaj kita….Sesungguhnya kedekatan kita dengan pelaku ma’siat mungkin menyebabkan mereka menerima da’wah kita, dalam posisi seperti ini kita bisa mencapai tujuan mulia dengan cara yang kurang baik/hina. Sesungguhnya tujuan yang mulia tidak hidup kecuali dalam hati yang baik. Bagaimana mungkin hati itu kuat memakai cara yang hina... bahkan bagaimana mungkin dia bisa menggunakan cara ini ?



LANGKAH-LANGKAH DA’WAH FARDIAH
I.              PERKENALAN
II.            MEMILIH
III.           PENDEKATAN
IV.           MENYAMPAIKAN FIKROH

PERKENALAN
“Berkenalanlah dengan orang yang kamu temui walaupun mereka tidak meminta berkenalan.” Hasan Al Banna
-       Berkenalanlah dengan setiap orang yang ada di sekitarmu
-       Untuk berkenalan ada banyak jalan
-       Hafalkan nama langsung

KENALILAH SETIAP ORANG YANG ADA DI SEKITARMU
Allah swt berfirman: “Wahai manusia sesungguhnya kami menciptakanmu dari laki-laki dan perempuan  dan Kami jadikan kamu bersuku-suku bangsa agar kamu saling mengenal.”[50]
Firman Allah ini ditujukan kepada seluruh manusia, artinya dengan Qudrah Kami, Kami menciptakanmu dari asal yang satu, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku yang berpencar-pencar, agar ada saling perkenalan.[51]
Demikianlah Allah swt memerintahkan manusia untuk saling berkenalan, memberitahukan kepada merehka bahwa yang demikian itu adalah tujuan dari penciptaan mereka yang berbeda-beda warna kulit, suku bangsa, lingkungan dan sifat...ini dari sisi umum, sedang dalam urusan da’wah kepada Allah lebih spesifik dan lebih wajib lagi untuk melakukannya, kemudian dalam da’wah fardiyah lebih detil dan sempurna, karena tidak terbayangkan bagaimana kamu menda’wahi orang yang tidak kamu kenal, dan tidak terbayangkan bagaimana dia akan menyambut da’wahmu sedangkan dia tidak mengenalmu...ini adalah satu bentuk perlakuan yang kering dan keras...Abu Salma meriwayatkan dari Rasulullah saw bersabda: “Satu perlakuan yang kasar diantaranya adalah:
¨       Seseorang masuk rumah saudaranya kemudian dihidangkan sesuatu kepadanya lalu dia tidak memakannya
¨       Seseorang menemani orang lain di perjalanan lalu dia tidak bertanya tentang namanya dan nama orang tuanya....”
Kemudian beliau saw mengajarkan kepada kita bahwa tempat masuk untuk da’wah, dan satu-satunya jalan ke sana adalah perkenalan antara da’i dan mad’u...beliau mengajarkan kepada kita dengan praktek langsung:
Barro’ bin Ma’ruf dan Ka’ab bin Malik datang ke Makkah, mereka mencari Rasulullah saw, mereka bertemu dengan  salah seorang penduduk lalu bertanya tentang beliau saw, lalu dijawab, “Apakah kalian berdua mengenalnya?” Mereka menjawab, “Tidak”, “Apakah kalian kenal Abbas, pamannya?”, “Ya”, “Jika kalian masuk masjid, dialah yang duduk dengan Abbas”, lalu keduanya masuk masjid. Ternyata Abbas duduk dan Rasulullah juga duduk lalu keduanya mengucapkan salam kemudian duduk dekat mereka...Lalu Rasulullah saw bersabda kepada Abbas: “Apakah engkau kenal dengan dengan dua orang ini wahai Abu Fadl...?” Dia menjawab: “Ya, ini Barra’ bin Ma’ruf pemuka kaumnya, dan ini Ka’ab bin Malaik...lalu Rasulullah saw bersabda: “Seorang penyair?”...Ka’ab berkata: “Demi Allah aku tidak lupa sabda nabi saw...seorang penyair?!...
Begitulah yang telah dilakukan Rasulullah saw, dan di atas tindakan itulah Imam Syahid berteladan, kita dengarkan perkataannya: “Berkenalanlah dengan orang yang kamu temui walaupun dia tidak meminta untuk berkenalan.”[52]
Jadi perkenalan adalah awal jalan menuju da’wah, maka berkenalanlah dengan setiap orang yang ada di sekitarmu; berkenalanlah dengan tetanggamu di rumah dan di jalan, dengan orang yang bersamamu di sekolah atau fakultas, dengan orang-orang di tempat kerja, orang yang shalat bersamamu di masjid. Berkenalanlah dengan tukang sayur, penjual daging, tukang cukur, dan setiap orang yang ada di kampungmu, bahkan berkenalanlah dengan setiap orang yang kamu temui di jalan, saat menunggu mobil dan juga saat berada di dalam mobil, setiap keadaan, berkenalanlah dengan ini dan itu, sesungguhnya berkenalan dengan siapapun akan membuka kesempatan-kesempatan baru untuk berkenalan dengan teman-temannya dan saudara dekatnya. Demikianlah nama-nama akan berderet sehingga kamu akan mempunyai pengetahuan yang luas, lahan bru yang subur untuk berda’wah. Hal ini perlakuan terhadap orang awam, adapun terhadap orang yang telah kamu pilih untuk mulai da’wah padanya, maka tidak cukup hanya mengenal namanya saja, akan tetapi harus mengenal lebih dalam lagi. Kenalilah:
1.     Namanya dan nama orang tuanya dan nama sukunya.
2.     Tempat tinggal dan tranportasi untuk bisa ke sana.
3.     Tempat belajar atau kerja.
Kemudian kenalilahlebih jauh lagi, untuk sampai pada detil kehidupannya;
4.     Profesi ibu bapaknya
5.     Jumlah saudaranya dan sepintas tentang mereka
6.     Lingkungan tempat tinggalnya
Kemudian kenalilah lebih dalam lagi sampai pada detil urusannya;
7.     Komitmennya dan juga komitmen keluarganya untuk taat dan menjauhi maksiat
8.     Hubungannya dengan ikhwah di kampungnya, sekolah, kuliah atau tempat kerja.
9.     Pemikirannya tentang Islam dan pandangan dan harapan-harapannya.
Begitulah, jadi perkenalan itu wajib. Jika kamu melakukan itu langkah berikutnya akan menjadi mudah, yaitu seleksi yang baik, seleksimu akan mendapatkan taufiq dari Allah insya Allah...adapun jika kamu tidak mengenal orang-orang yang ada di sekitarmu kamu akan sangat bingung saat menyeleksi, seleksimu tidak detil sehingga hasilpun tidak bagus.
Untuk itu saudaraku mulailah da’wah dengan permulaan yang baik:
“BERKENALANLAH DENGAN ORANG YANG ADA DI SEKITARMU DENGAN MENDALAM”

PELAJARILAH TRIK-TRIK BERKENALAN
Barangkali kamu mempunyai hubungan langsung dengan orang yang ingin kamu da’wahi, seperti salah seorang saudara dekatmu; anak pamanmu, anak bibimu...disini kamu tidak perlu lagi trik untuk berkenalan dan memulai da’wah terhadapnya, dan ini lebih utama daripada yang lainnya, bagaimana tidak sedangkan Allah swt telah memerintahkan nabi-Nya saw dalam firman-Nya:
“Dan peringatkanlah keluarga dekatmu.”[53]
Bisa juga profesimu yang menyebabkanmu jadi terkenal dan banyak teman, seperti seorang dokter, guru, atau pedagang. Dalam keadaan seperti ini kamu akan lebih berhasil dalam da’wahmu, tidak perlu lagi trik untuk berkenalan kepada orang yang datang ke klinikmu, ruang belajar atau tokomu...ya mereka adalah orang-orang yang paling berhasil dalam berda’wah...bagaimana tidak sedang Abu Bakar Ash-Shidiq –da’i kedua setelah Rasulullah saw- mendapatkan kelebihan ini:
“Beliau adalah seorang pedagang...dengan sendirinya beliau mempunyai hubungan dengan banyak orang. Oleh karena itu beliau punya kelebihan untuk mempengaruhi orang lain, karena hubungan yang ada terjadi secara alami tanpa dibuat-buat, dia tidak perlu lagi menciptakan satu sebab untuk bisa berhubungan dengan mereka, seorang guru misalnya, dan seorang pedagang lebih luas gerakannya daripada seorang pegawai yang terkungkung di kantornya.”[54]
Jadi di mana timbul masalah...?! ...masalah akan timbul ketika tidak ada hubungan yang alami yang mempertemukanmu dengan orang yang ingin kamu kenal, di sini mulai bingung: Bagaimana aku akan mulai berkenalan?! Di sini kamu harus menggunakan taktik dan kecerdikanmu...
¨       Barangkali caranya dengan bertanya padanya dengan satu pertanyaan yang menarik perhatiannya.
¨       Barangkali caranya dengan memperkenalkan diri dan tempat tinggalmu.
¨       Barangkali caranya dengan memancing refleknya dengan gerakan, kata-kata atau yang lain.
¨       Barangkali caranya dengan bercanda kemudian kamu berkenalan padanya.
¨       Barangkali caranya dengan memberikan satu bantuan atau perbuatan baik yang lain.
Mungkin caramu dengan salah satu cara di atas, akan tetapi bagaimana kita mempelajarinya secara langsung...kita perhatikan bagaimana ustadz Abbas Assisi menjelaskannya kepada kita:[55]
1.     Suatu hari aku naik bis, naiklah seorang pemuda berjenggot berumur tujuh belasan, lalu duduk di sampingku, orang berjenggot saat itu masih dianggap asing. Aku bergerak ke arahnya dengan pelan untuk berkenalan dengannya sebelum dia meninggalkan bis dan hilang kesempatan, aku menghadap ke arahnya dengan tersenyum tipis smbil berkata: “Apakah anda memelihara jenggot karena adat atau ibadah?”, dia tidak paham dengan pertanyaanku, lalu aku ulang, “Karena mengikuti sunnah atau karena yang lain?” Dia menjawab, “Ya, itu adalah sunnah dari Rasulullah saw...lalu aku berkata: “Masya Allah, Allah Akbar”, kemudian aku cepat menyambung, “Saudaramu seiman...dari Rasyid saya seorang pedagang”, lalu dia berkata: “Saudaramu seiman...pelajar di Madrasah Aliyah Abbasiyah,” lalu aku hafal nama dan alamatnya langsung.
2.     Dalam setiap perjalanan aku selalu membawa mush-haf, koran atau majalah...dan kebiasaan orang yang duduk di sampingmu ketika kamu membaca koran dia akan mencuri pandang untuk ikut membaca...dalam hal ini kamu bisa meminjamkan kepadanya, dan setelah dia membacanya dia akan mengembalikannya dan berteima kasih. Kemudian kamu bisa membuka percakapan dengannya tentang salah satu berita di koran dan berkembang pembicaraan sampai akhirnya terjadi perkenalan.
3.     Ketika aku duduk di suatu tempat ada orang yang tidak aku kenal duduk di sampingku, aku berpikir bagaimana memulai percakapan. Ternyata kulit orang itu putih bersih, lalu aku ajukan satu pertanyaan, “Apakah anda dari Sudan?”, dengan kaget dan terheran-heran dia melihat ke arahku, seakan dia ingin mengatakan apakah anda buta? Akan tetapi dengan cepat aku katakan, “Jangan marah..., saya kenal beberapa orang Sudan berkulit putih...”, kemudian aku katakan, “Baik, anda dari negara mana?” kemudian kami larut dalam pembicaraan setelah aku hancurkan dinding kebisuan antara kami.
4.     Kami sedang dalam perjalanan dari kota Iskandariyah menuju kota Asyut, ibukota dataran tinggi Mesir. Karena perjalanan cukup jauh kami membawa sejumlah sandwich. Dengan kehendak Allah kereta mogok di perjalanan lebih dari dua jam. Maka beberapa ikhwah membagikan sebagian makanan kepada para penumpang sebagai realisasi dari sabda Rasulullah saw “Barang siapa mempunyai kelebihan bekal hendaklah memberikan kepada yang tidak punya bekal”(HR. Muslim)...dan dengan ini kami membuka pintu perkenalan.
5.     Sebelum menemukan cara-cara yag islami dalam berda’wah kepada Allah swt, aku berijtihad untuk menemukan cara untuk bisa berkenalan, dan diantara yang aku ingat: pada suatu kali aku menginjak kaki salah seorang penumpang trim yang berdiri di sampingku, dia berteriak dengan keras di mukaku, “Apakah kamu buta?!” Aku jawab dengan tanpa ekspresi, “Jangan marah saudaraku, saya memang setengah buta karena pandanganku lemah”. Orang itu berbalik jadi merasa kasihan dan minta maaf atas sikapnya, maka aku dengan sigap mengambil kesempatan untuk berkenalan.
Saudaraku, untuk memulai da’wahmu dengan permulaan yang benar;
“CIPTAKANLAH CARA-CARA UNTUK BISA BERKENALAN”

hafalkanlah NAMANYA SEKETIKA
“ingatlah bahwa nama seseorang itu adalah nama yang paling dia cintai”[56]
Ya... kita lebih mencintai nama kita dari pada nama yang lain, karena itu...kapan saja kamu ingat nama seseorang kemudian kamu menemuinya dan memanggilnya dengan nama itu dengan benar, percayalah bahwa kamu telah menempuh setengah perjalanan menuju hatinya...
“Sesungguhnya diantara pelajaran terpenting yang diambil oleh para politikus, adalah pelajaran ini: Sesungguhnya mengingat nama salah seorang pemilih adalah setengah perjalanan untuk menjadi terkenal, adapun melupakannya adalah setengah perjalanan untuk kecewa dan terpuruk.”[57]
Untuk itu menghafal nama-nama adalah merupakan unsur yang penting dan berpengaruh, tanpanya tidak akan terjadi penyatuan hati, dan tidak akan melahirkan saling percaya, itu adalah benang pertama yang menghubungkan antara hati-hati itu, dansebatas kemampuanmu menghafal nama-nama itu sebatas itulah keberhasilanmu dalam berda’wah...
Di sini timbul masalah besar...karena bagaimana mungkin kita bisa menghafal nama semua orang yang kita kenal...sedangkan mereka itu banyak sekali dengan keterbatasan memori kita, dan kesibukan kita dengan berbagai hal yang lain...untuk itu kita beri kesempatan kepada ustadz kita yang mulia Abbas Assisi untuk menjelaskan kepada kita cara yang bisa membantu kita untuk menghafal nama-nama itu katanya:
1.     Kita harus mempunyai keinginan yang kuat untuk menghafal nama-nama itu.
2.     Ketika memulai perkenalan dalam keadaan siap, membuka hati dan akalnya untuk menerima nama itu –semua atau sebagiannya- kemudian memantaunya di memori sampai kuat dan mulai memakainya dengan lawan bicaranya.
3.     Nama itu terdiri dari tiga potongan, namanya sendiri, nama orang tuanya dan nama keluarga. Sedangkan nama yang dekat dengan hati lawan bicaramu adalah namanya sendiri atau gelarnya (Abu Fulan), jika ditambahkan dengan nama keluarga akan lebih baik, kebanyakan nama keluarga terdengar aneh hal ini memudahkan untuk menghafalnya.
4.     Ketika kita mengenal nama baru, kita harus menyandingkan dengan nama-nama yang sudah ada sehingga memudahkan untuk menghafal.
5.     Diantara hal penting saat berkenalan adalah memusatkan perhatian pada ciri-ciri orang yang kita kenal; apakah dia punya jenggot, memakai kaca mata, warnanya, suaranya, tinggi rendahnya, kemudian pekerjaan dan momentum yang mempertemukan itu.
6.     Untuk menguatkan nama-nama itu dalam memori kita, tidak ada salahnya menuliskan nama orang yang kamu kenal kemudian berusahalah untuk memanggilnya dengan namanya jika bertemu dan berkirim surat saat dia pergi.
7.     Mengingat apa yang telah lalu ketika bertemu setelah itu, kemudian momentum yang mempertemukanmu dengan pertama kali, hal ini akan membantumu untuk memnggil dengan namanya.
“Imam Al-Banna adalah seorang da’i yang paling perhatian untuk menghafal nama, ketika keluar keputusan pengadilan militer untuk memindahkannya ke kota Qona di dataran tinggi Mesir tahun 1941, dalam salah satu acara yang diadakan oleh pemuda kepanduan untuk menyambutnya, dan hal ini adalah yang pertama kali mereka akan melihatnya pada acara itu beliau menyalami sebagian mereka dan menyebut namanya, ketika ditanya tentang hal itu beliau menjawab: “Ketika aku menandatangani kartu anggota kepanduan, aku menghafal gambar dan namanya.”[58]
“Kita menghabiskan setengah waktu kita untuk berkenalan, berbasa-basi dengan beberapa kalimat yang kering kemudian kita tidak bisa mengingat namanya saat tiba waktu untuk berpisah.”[59]
Betapa malunya ketika kamu bertemu dengan orang yang pernah kamu kenal kemudian dia bertanya akan namanya padamu lalu kamu tidak bisa menjawabnya.
Saudaraku, untuk memulai da’wahmu dangan permulaan yang benar;
“BERUSAHALAH UNTUK MENGHAFAL NAMA ORANG YANG KAMU KENAL”

LANGKAH KEDUA: MEMILIH/MENYELEKSI
Da’wah berjalan berjalan berkat seleksi...
Sebatas keberhasilan seleksi sebatas itulah keberhasilan da’wah...
Proses seleksi mempunyai beberapa unsur pendukung yang tidak akan berhasil tanpanya...
Kita semua harus mengetahui dan menerapkannya...
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya manusia itu seperti seratus onta...
Kamu tidak mendapati satupun yang layak untuk berkendara...”

SELEKSI: MENGAPA DAN BAGAIMANA?
Akhir yang baik berasal dari permulaan yang bersih...
Dan barang siapa yang benar permulaannya maka akan benar akhirnya...
Ya...seleksimu yang baik terhadap orang yang kamu da’wahi sejak dari awal akan menjamin kesuksesan bersamanya di akhirnya, jika kamu melakukan seleksi dengan jelek, kamu akan menyusahkan diri sendiri kemudian hanya akan mendapatkan sedikit keberhasilan.
Memang...da’wah fardiah terlaksana berdasarkan seleksi, dan terpusat pada seleksi yang baik dan teruji, begitulah adanya da’wah itu sejak masa nabi saw, bukan da’wah ‘amah, “da’wah itu terlaksana berdasarkan seleksi terhadap individu, dan penilaian da’i terhadap tabiat mad’u...kita dapati bahwa orang pertama yang beriman adalah Khadijah ra; istri Nabi saw, Abu Bakar ra; teman dekatnya, Ali bin Abi Thalib; anak asuhnya yang tinggal serumah dengan beliau saw yang bisa disamakan dengan anaknya sendiri, dan Zaid bin Haritsah; pembantunya.
Ketika Abu Bakar ra berangkat untuk berda’wah beliau memilih jalannya sendiri. Ibnu Ishaq berkata: “Kemudian Abu Bakar bin Abu Quhafah masuk Islam...lalu beliau mulai menda’wahi orang yang percaya kepadanya diantara kaumnya kepada Allah dan Islam, maka masuk Islam di tangannya: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, dan Thalhah bin Ubaidillah.[60]
Manusia bukanlah hanya terdiri dari satu jenis golongan, mereka berbeda-beda dalam kedekatannya terhadap da’wah ini. Mari kita dengarkan hadits Abu Musa Al-Asy’ari ra yang dia riwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: “Perumpamaan hidayah dan ilmu yang aku diutus dengannya seperti air hujan yang turun ke bumi, ada diantaranya: 1. Tanah yanga baik (subur), menyerap air lalu menumbuhkan rumput yang banyak...2. tanah keras, menampung air lalu Allah memberikan manfaat darinya kepada manusia, mereka minum, dan bercocok tanam...3. Tanah rawa, tidak menampung air dan tidak menumbuhkan rumput-rumputan...itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan memanfaatkan apa yang aku telah diutus dengannya lalu dia mengetahui dan mengajarkannya...dan perumpamaan orang yang tidak memperdulikannya dan tidak menerima hidayah Allah yang aku diutus dengannya.”[61]
Ya ...begitulah manusia ada tiga golongan[62]:
Golongan yang berakhlak islam...
Adalah orang yang menunaikan berbagai ibadah, meramaikan masjid dan menjauhi hal-hal yang diharamkan, tidak lupa mengerjakan yang sunnah, itulah orang yang memelihara hak-hak Allah, takut dan selalu merasa berada dalam pengawasannya...dan tidak menguranginya melainkan aktif berbuat untuk Islam.
Golongan yang berakhlak dasar...
Orang yang melakukan sebagian ibadah, akan tetapi dia terang-terangan melakukan ma’siat, tipe manusia aktif di masyarakat, jantan menjaga kehormatan dan punya keberanian, dermawan, dan terhormat.
Golongan yang berakhlak jahiliyah...
Adalah golongan terendah, selalu mendapatkan cacian dan dijauhi orang di sekelilingnya karena akhlaknya yang buruk, itulah tipe orang yang disebutkan Rasulullah saw, “Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya pada hari kiamat adalah yang dijauhi orang karena takut tingkah lakunya yang buruk.[63]
Untuk menda’wahi golongan pertama ini tidak banyak halangan, untuk bisa menundukkkannya adalah hal yang mudah insya Allah, dengan sedikit usaha akan menjadi baik keadaannya, dan akan memberikan hasil yang baik...oleh karena itu golongan ini mendapat prioritas utama terutama jika da’i baru sebagai pemula dalam da’wah dan belum mempunyai pengalaman dalam da’wah.
Kemudian prioritas kedua adalah golongan kedua, rintangannya sedikit lebih berat dari pada yang pertama. Akan tetapi kebanyakan hasil yang dicapai cukup memuaskan, dan akan lebih baik seandainya penanganannya diserahkan kepada yang punya pengalaman dalam berda’wah.
Dan golongan ketiga mendapatkan prioritas terakhir, karena membutuhkan banyak kerja berat, waktu yang panjang, dan hasil yang dicapaipun kadang kurang memuaskan...dan ini harus ditangani oleh da’i yang sudah banyak pengalaman dalam berda’wah.
Inilah qoidah umum...qoidah yang sudah jelas benarnya. Contohnya: “Seseorang berdiri di bawah pohon apel yang sedang berbuah, lalu dia memetik buah yang berada dalam jangkauan tangannya, ketika habis buah yang dalam jangkauannya dia memetik yang lebih jauh yaitu kelompok kedua...sampai ketika habis buah itu kecuali kelompok ketiga yang berada jauh dari jangkauannya pada bagian yang tertinggi dia akan tertinggal, adakalanya dia akan berusaha mencari sekuat tenaga sampai dapat, atau dibiarkan sampai jatuh dengan sendirinya.”[64]
“Akan tetapi urutan ini bukanlah merupakan hal yang baku yang harus diikuti apa adanya, barangkali seorang da’i mendapatkan suatu kondisi tertentu dengan izin Allah sehingga urutan ini berubah:”[65]
Seorang muslimah keluar dari Makkah berhijrah ke Habasyah, Umar menemuinya –saat itu dia masih musyrik- lalu dia berkata: “Wahai Ummi Abdullah anda juga berangkat?”, “Ya, kalian telah menyakiti kami, memaksa dan mengusir kami dari negeri kami”, Umar berkata: “Semoga anda selamat”. Lalu dia mendatangi suaminya dan menceritakan apa yang dia lihat dari kelembutan hati Umar. Suaminya berkata: “Apakah kamu berharap Umar akan masuk Islam?! Wallahi, dia tidak masuk Islam sebelum khimar Al-Khathab masuk Islam”, keputusasaan ini tak akan timbul dalam diri sahabat itu seandainya dia tidak melihat ‘peperangan dahsyat’ yang dikobarkan oleh Umar terhadap Islam.”[66]
Kemudian dengan kehendak Allah swt Umar masuk Islam. Yang seperti Umar adalah Khalid bin Walid, Amr bin Ash dan banyak lagi yang lain.
Jadi kita memilih yang lebih dekat dengan da’wah kita, dan yang lebih mudah untuk sampai kepada da’wah kita, kita berikan tugas kepada setiap da’i sesuai dengan kemampuannya, kemudian kita berserah diri bahwa hidayah itu dari sisi Allah swt.
“Akan tetapi masyarakat muslim keadaannya sama dengan masyarakat yang lain, terdiri dari berbagai macam golongan dan tabiat, ada orang tua, pemuda dan anak-anak, ada yang berpengetahuan luas, sedang dan minim, ada yang berakhlak islami dan ada yang tidak berakhlak dengan sebagian besar akhlak islam, ada yang penyabar dan ada yang emosional, ada yang sombong dan ada yang tawadhu’, ada yang semangat dan sibuk dengan agamanya dan ada yang sibuk dengan urusan dunia, ada yang punya fikrah tertentu dan ada yang tidak...dan seterusnya.”[67]
Lalu dengan siapa kita mulai yang pertama kali, dan kepada siapa kita berikan prioritas utama?... Akan kita coba membahasnya secara obyektif:
1.     umur:
Kamu harus mulai dari yang usianya paling dekat dengan usiamu, akan lebih baik kalau kamu lebih tua atau minimal seumur, karena menda’wahi remaja akan sulit bagi orang sudah berumur lanjut. Dan secara umum da’wah harus difokuskan pada tahapan usia pemuda, secara khusus adalah usia SLTA dan Universitas. Karena pemuda punya keistimewaan dengan semangat yang tinggi dan totalitas dalam berda’wah, tanpa disibukkan dengan urusan dunia.
Kita juga tidak melalaikan da’wah terhadap anak-anak...karena anak-anak sekarang adalah pemuda esok, kita dengarkan Imam Syahid berkata: “Aku ingin seandainya bisa menyampaikan da’wah ini kepada setiap anak yang dilahirkan.”
2.     Yang dekat bukan yang jauh:
Mulailah dengan yang dekat tempat tinggalnya denganmu, dekat kelas di sekolah, mulailah dengan yang dekat darimu dalam profesi dan pekerjaan, karena mereka semua punya hubungan yang alami denganmu, adapun yang jauh dan tidak ada hubungan akan memerlukan waktu yang lama sampai kita bisa menanamkan kepercayaan yang diharapkan kepadanya...
Kemudian ada masalah penting yang lain, kita harus mulai dari yang dekat dengan hati kita, yang kita merasa enjoy dan lebih kita senangi dari pada yang lainnya jika dia punya pendukung-pendukung yang lain. Menda’wahi orang ini jelas lebih mudah dan pendekatanpun akan lebih cepat.
3.     Sifat-sifat kepribadian:
Sifat-sifat ini penting sekali dan akan membantu untuk cepat sampainya da’wah kepada mad’u, secara global adalah sebagai berikut:
-       Tawadhui’ dan tidak takabbur; takabbur adalah penghalang besar untuk sampainya da’wah kepada mad’u.
-       Sedikit bicara; orang yang banyak bicara tidak bisa menyimpan rahasia dan ini sangat berbahaya.
-       Kesiapan untuk disiplin dan taat; karena ada orang yang hanya melihat dirinya sendiri dan menyangka dirinyalah yang paling berhak untuk memimpin di setiap tempat.
-       Keberanian; tidak seharusnya seorang da’i itu pengecut, takut terhdap fitnah dan rintangan dalam perjalanan.
-       Sifat-sifat yang lain, seperti dermawan dan tidak kikir, luwes dan gampang berkenalan, lemah lembut dan lain sebagainya.
4.     Mulailah dengan orang yang pikirannya masih kosong:
Yaitu orang yang dalam otaknya tidak ada pikiran yang aneh, seperti meyakini bahwa Islam tidak universal ajarannya, atau terbatas di dalam masjid saja, memilih jalan kekerasan dan kekuatan, atau berdiam diri di masjid dengan maksud untuk membersihkan jiwanya... Seorang muslim yang pikirannya masih kosong dari pikiran-pikiran semacam ini jauh lebih mudah dari pada mereka, karena kebanyakan mereka adalah pendebat dan kamu akan menghabiskan banyak waktu untuk berdebat dan diskusi.
5.     Mulailah dengan pemuka masyarakat:
Jika orang yang kamu da’wahi adalah sekelompok orang yang saling mencintai, dan kamu ingin menarik mereka terhadap da’wahmu, kamu harus memilih pemuka mereka yang paling berpengaruh, kalau bisa mengajaknya meskipun butuh beberapa waktu kemungkinan besar akan bisa menarik mereka semua...
Ketika Usaid bin Hudhair masuk Islam di tangan Mus’ab bin Umair dan As’ad bin Zarah, dia berkata kepada keduanya: “Sesungguhnya di belakangku ada orang yang jika dia mengikutimu tidak satupun dari kaumnya akan membangkang, aku akan mengajaknya kepadamu sekarang...dia adalah Sa’ad bin Muadz”...Ketika Sa’ad bin Muadz ra masuk Islam dia kembali ke kaumnya lalu mengumpulkan mereka di satu dataran tinggi kemudian dia berkata: “Saya tidak akan mendengarkan perkataan kalian sampai kalian masuk Islam,” maka mereka semua masuk Islam...
“Mungkin ada orang yang mengatakan bahwa sifat-sifat ini sangat jarang bisa didapatkan pada satu orang, dan ini benar, akan tetapi hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam memilih dan kita abaikan beberapa sifat pada saat darurat sambil berusaha untuk memenuhinya bersama berjalannya waktu...

Sesungguhnya tiap-tiap orang membutuhkan bentuk tertentu untuk menda’wahinya, tidak sepantasnya kita menyatakan bahwa tipe orang tertentu tidak layak untuk dida’wahi, akan tetapi mungkin aku tidak cocok menda’wahinya dan cocok bagi orang lain.”LANGKAH KETIGA: PENDEKATAN

Sesungguhnya hati manusia adalah kunci dari kerja mereka …

Jika kamu telah berhasil menguasai kendali hati temanmu maka kamu telah menguasainya dengan penuh…
Akan tetapi …bagaimana mencapai hal itu, sedang jalan untuk menuju ke hal itu sangat sulit…
Ada lima belas cara dari Al Qur-an dan As Sunnah yang akan menunjukkan kamu ke arah itu kemudian pelajarilah bagaimana menjadikan manusia bias mencintaimu…
Itulah seni berda’wah….
Imam Ahmad dan Thabrani  meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad ra dia berkata: “Rasulullah saw bersabda: ‘Seorang mu’min itu lembut dan ramah…Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak ramah dan tidak disenangi…”.

DIA HARUS MENYENANGIMU DULU

“Sesungguhnya seorang kekasih taat pada kekasihnya…”
Kalimat di atas adalah sepenggal dari kata hikmah yang diucapkan oleh seorang penyair ahli hikmah, melihat suatu masalah dengan sangat jeli... Adapun yang mendorongnya untuk taat ada dua hal:
¨       adakalanya terpaksa atau takut, ini tidak boleh terjadi dalam da’wah
¨       adakalanya karena cinta dan kepercayaan
Kuasailah kendali hati saudaramu lebih dahulu sebelum kamu menganjurkannya untuk melakukan kebaikan atau melarangnya berbuat kemungkaran.
Perlukah kiranya untuk banyak berdebat jika kamu disuruh oleh orang yang kamu cintai atau dia melarangmu…begitu jugalah dengan manusia pada umumnya, hati-hati mereka itulah kunci dari amal mereka.
Langkah yang penting sekali dalam da’wah fardiah adalah dekatnya hubungan antara hatimu dan hati mad’u, hendaknya yang menyatukan itu adalah rasa saling cinta…”dan sebatas perhatian dan perasaanmu terhadapnya, sebatas itulah mad’u akan memberikan perhatian dan tanggapan dari apa yang disampaikan padanya.”[68]
Kita menginginkan hati kita terbuka terhadapnya, sehingga tersingkaplah apa yang ada pada diri kita dan juga mad’u, serta untuk meningkatkan levelnya agar menjadi sama dengan level kita.
Keterbukaan hati dari sebagian orang kepada sebagian yang lain termasuk langkah yang penting, jika kita berhasil dalam hal ini maka kita akan berhasil insya Allah…[69]
Seorang da’i yang bijaksana adalah orang yang mendapat taufiq dari Allah untuk membuka hati yang terkunci secara lemah lembut, memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, menampakkan rasa sayang saat bicara padanya, dengan begitulah hati yang keras menjadi lunak dan tubuh yang ma’siat jadi sadar dan istiqomah, karena apa yang berasal dari hati akan sampai ke hati, sedang yang berasal dari mulut hanya akan sampai di telinga.
Kalau kamu sudah berpengalaman menyelami jiwa manusia, ketahuilah bahwa jiwa itu bisa melakukan penyimpangan dan pembangkangan, khususnya jika telah lewat masa yang panjang tanpa siraman penyejuk … Saat itu jika kamu langsung melakukan perbaikan, hal itu akan dianggap sebagai satu benturan, untuk itu kamu harus berlemah lembut dalam memperlakukannya, kenalilah jalan-jalan menembus hati untuk bisa masuk ke dalamnya.[70]
Perasaan dan ungkapan hati adalah bahasa universal yang digunakan da’i untuk menghadapi semua orang di muka bumi, sampai dengan orang yang bisu sekalipun. Bahasa ini adalah koin emas yang dipakai di seluruh dunia. Demikianlah, dengan bahasa ini kaum muslimin generasi awal telah menaklukkan dunia barat dan timur, mereka ibarat obor-obor penerang dan lampu-lampu petunjuk…[71]
Allah swt berfirman: “Maka karena rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut, kalau seandainya engkau berlaku kasar, dan keras hati sungguh mereka akan lari dari sekelilingmu”.[72]
Inilah rahasia dari keagungan Nabi saw, beliau menguasai hati para mad’unya, perkataannya baik dan menyejukkan bagi orang yang mendengarnya…adakah kamu melihat bahwa kita beruswah kepada Rasulullah saw?!
Mulai dari sekarang hendaklah kita mencoba untuk menggunakan cara-cara ini dalam berda’wah, cobalah kepada setiap orang yang kamu da’wahi. Kita coba dengan teman-teman kita di bangku sekolah, di tempat kerja, dengan tetangga dan dengan orang yang yang ada di sekitar kita. Sebelum itu kita coba dengan keluarga, saudara, ibu dan bapak kita.
Kita melihat pada zaman ini sesuatau yang benar-benar aneh dari sebagian pemuda, sebelum komitmen dengan keislamannya dia tampak ramah, murah senyum, berbakti pada dua orang tuanya, lemah lembut dengan keluarganya, mencintai saudara-saudaranya, menjaga silaturahmi, menyayangi tetangganya, merendahkan diri terhdap orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ketika Allah swt memberikan nikmat kepadanya dengan nikmat islam malah dia pahami sesuai dengan hawa nafsunya, kamu melihatnya selalu bermuka masam, tidak ada lagi seulas senyum di kedua bibirnya, tidak lagi menyayangi anak kecil, tidak menghormati yang lebih tua, menghardik ibunya, berlaku kasar pada bapaknya, memutuskan hubungan dengan saudaranya. Kamu hanya melihatnya selalu menganggap remeh setiap orang yang dilihatnya, apalagi kalau dia berselisih pendapat dengannya.[73] Apakah kamu melihatnya masih termasuk salah seorang da’i?!
Waspadalah saudaraku, dan hati-hatilah untuk mengajak orang kepada amar ma’ruf nahi mungkar, atau berdebat sebelum kamu bisa masuk dan menguasai hatinya... Karena pembicaraan apapun sebelum itu akan membuatnya lari dan menolaknya.[74]
Sebagian besar da’i melakukan kesalahan ini, mereka memberikan nasehat-nasehat kepada setiap orang yang baru mereka kenal atau bahkan mereka belum berkenalan, akan tetapi... Apa yang mereka dapatkan..?! Tidak diragukan lagi bahwa mereka hanya akan menuai kemarahan, dan penolakan. Saudaraku, janganlah terburu-buru untuk memetik buah sebelum matang. Karena setiap sesuatu ada waktunya tersendiri. Sedangkan langkah ini perlu waktu yang lama, beberapa minggu, atau sampai beberapa bulan... akan tetapi janganlah kamu menjadi ....
Ingatlah selalu saudaraku...
“KUASAILAH KENDALI HATI SAUDARAMU LEBIH DAHULU SEBELUM AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNGKAR”

BAGAIMANA MENUNDUKKAN HATI MANUSIA

Sekarang ....segera mulailah untuk mendekati obyek da’wahmu, berusahalah untuk menawan hatinya, penuhilah hatinya dengan kecintaan padamu, jika kamu berhasil melakukan itu, sudah pasti keberhasilan yang kamu dapatkan, jika tidak maka keberhasilan akan sulit kamu dapatkan ...mulailah segera dari sekarang..
Akan tetapi...tunggulah sebentar...Bagaimana kamu bisa melakukan itu semua? Tahukah kamu jalan untuk menuju ke hati itu? ...Saya tidak ragu bahwa kamu tahu sebagiannya, sedangkan sebagian yang lain belum kamu ketahui...
Saudaraku, ambillah resep ini, ini adalah resep sihir agar kamu bisa menawan hati orang, memenuhi hatinya dengan kecintaan kepadamu. Berusahalah untuk mengikutinya kemudian cobalah.
1.     Abu Hurairah ra meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba Dia memanggil malaikat Jibril, ‘Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai si fulan maka cintailah dia’, lalu Jibril mencintainya, Jibril lalu menyerukan kepada penghuni langit: ‘Sesungguhnya Allah swt mencintai si fulan maka kalian cintailah dia’, maka penghuni langit pun mencinatainya...kemudian dijadikanlah dia dicintai oleh penghuni bumi.[75]
Memang...penerimaan dimuka bumi hanya dijadikan bagi orang yang dicintai oleh Allah swt...Inilah Rasulullah saw –kekasih Allah- Allah menjadikannya diterima di muka bumi, sebagaimana sahabatnya menyifatinya: “Saya tidak melihat sesuatupun yang lebih baik darinya”, “Jika kamu melihatnya kamu segan kepadanya, jika kamu bergaul dengannya maka kamu akan mencintainya”.
Bersungguh-sungguhlah saudaraku untuk mendapatkan kecintaan Allah swt dan ridho-Nya, maka Allah akan membukakan bagimu kunci-kunci hati itu, dan mendapatkan tempat di hati penghuni bumi.
Ketahuilah saudaraku, bahwa cinta Allah swt kepadamu tidak akan kamu dapatkan kecuali jika kamu mencintai-Nya, dan diantara ataufiq Allah kepada hamba-Nya, serta tanda cinta-Nya adalah petunjuk-Nya untuk mencintai-Nya...
Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah”.[76]
Oleh karena itu perintah pertama dari Rasulullah saw kepada para sahabatnya setelah hijrah adalah sebagaimana terungkap dalam sabdanya, “Cintailah Allah sepenuh hati”.[77]
Juga dalam salah satu doanya, “Ya Allah aku mohon cinta-Mu, dan cinta orang yang mencintai-Mu, serta amal yang akan menyampaikanku pada cinta-Mu, ya Allah jadikanlah cinta-Mu sesuatu yang paling aku cintai…”.[78]
Ketahuilah saudaraku, bahwa tanda cintamu kepada Allah swt adalah taat dan tidak ma’siat padanya. Adakah seorang kekasih membangkang pada kekasihnya?!
Kamu ma’siat pada Allah sedang kamu mengaku cinta
Demi umurku ini qiyas yang berlawan
Tentu kamu taat seandainya kamu cinta
Sungguh kekasih pada kekasihnya tak melawan
Tanda cintamu pada Allah yang lain adalah memperbanyak dzikir pada pagi dan sore hari, serta pada setiap kesempatan, tidakkah kamu melihat bagaimana seorang kekasih tidak bosan untuk mengingat kekasihnya?!
Ada orang dulu yang mengatakan:
“Jika seorang penganggur merasa bosan dengan keadaannya, maka tidak akan bosan orang-orang yang mencintaimu untuk mengingatmu”.[79]
Diantara tanda cintamu juga kepada Allah swt adalah mencintai apa yang dicintai oleh Allah swt, membenci apa yang dibenci oleh Allah swt, cinta dan benci karena Allah…Rasulullah saw bersabda: “Seorang hamba tidak akan mendapatkan iman yang jelas sampai dia bisa mencintai dan membenci karena Allah, jika dia cinta dan benci karena Allah maka dia berhak mendapatkan kewalian dari-Nya…Sesungguhnya wali-wali-Ku adalah dari hamba-hamba-Ku, dan kekasih-kekasih-Ku adalah dari makhluq-Ku yang mereka mengingat-Ku dan Aku pun mengingat mereka”.[80]
Diantara tanda cintamu pada Allah juga adalah memperbanyak amalan ibadah sunnah untuk mendekatkan diri pada-Nya, dan meninggalkan dosa-dosa kecil karena takut pada-Nya…”Yang paling Aku senangi adalah jika hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan melaksanakan yang Aku wajibkan padanya, dan dia terus mendekatkan diri pada-Ku sampai Aku mencintainya”.[81]
Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Sesungguhnya Allah swt berfirman: “Bohong orang yang mendakwakan cinta pada-Ku sedang dia tidur dari-Ku (tidak munajat pada-Ku)… bukankah seorang kekasih menginginkan untuk berdua dengan kekasihnya?!”.[82]
Kemudian ketahuilah saudaraku, bahwa cinta Allah adalah rahasia besar, tidak terungkapkan oleh kata-kata, maka bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang kamu mampu melakukannya, dengarkanlah munajat Dawud Ath Thay pada malam hari:
“Resah karena-Mu meniadakan keresahan yang lain, dan menghalangi tidurku
rinduku untuk melihat-Mu menghilangkan kelezatan yang lain
menghalangiku dari mengikuti syahwat, maka aku mengharap penjara-Mu wahai Yang Maha Pemurah”.
Saudaraku: Jika  kamu ingin dicintai oleh orang lain
       “RAIHLAH CINTA ALLAH PADAMU DENGAN CINTA YANG TULUS PADANYA”
2.   Dosa-dosa yang menyebabkan pelakunya dikucilkan
Aisyah ra menulis surat kepada Muawiyah ra: “Amma ba’du ... Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan  ma’siat kepada Allah, pujian terhadapnya akan berubah menjadi celaan”[83]
Abu Darda’ ra meriwayatkan dia berkata: Rasulullah saw besabda: “Hendaknya seorang waspada terhadap laknat yang datang dari hati kaum mu’min secara tak sadar”. Kemudian beliau bersabda: “Tahukah  kamu apa sebabnya?” Aku berkata: “Tidak” Beliau bersabda : “Sesungguhya ketika seorang hamba melakukan ma’siat kepada Allah, Allah akan menjadikan kemarahannya di   hati  kaum mu’minin, sedangkan dia tidak menyadarinya”.[84]
Diantara efek dari perbuatan maksiat adalah ketidakramahan yang terjadi antara dia dengan manusia pada umumnya, lebih-lebih dengan orang-orang soleh yang ada diantara mereka.[85]
Akibat yang lain dari maksiat adalah bahwa masalah atau urusan yang dia hadapi tidak terpecahkan atau dengan susah payah baru bisa dipecahkan...aneh memang, bagaimana seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup sedangkan dia tidak tahu apa penyebabnya.[86]
Akibat-akibat yang lain dari  maksiat itu adalah:
¨       Pelaku maksiat mendapati  hatinya keras
¨       Dia mendapati kegelapan dalam hatinya sebagaimana dia merasakan kegelapan malam yang pekat
¨       Dosa-dosa itu menjadi sebab terhinanya dia di  hadapan Tuhannya
¨       Dosa-dosa itu menjadi sebab terputusnya hubungan antara hamba itu dengan Tuhannya
¨       Dosa-dosa itu menjadi sebab dilupakan dan ditinggalkannya hamba itu oleh Allah swt
¨       Dosa-dosa itu melemahkan perjalanan hati menuju Allah swt dan negeri akhirat, merintangi, menghentikan dan membelokkannya dari perjalannya itu jika dia tidak mengembalikannya ke jalan semula.[87]
Kamu lihat dengan dosa hati itu dimatikan
Bahkan jadi hina orang yang kecanduan

Hati jadi  hidup  karena dosa ditinggalkan

Bagi dirimu meninggalkannya suatu  kebaikan
Itulah keadaan seseorang dengan Tuhannya...lalu bagaimanakah lagi hubungannya dengan manusia?!
Yang  harus kamu lakukan jika kamu ingin disenangi manusia:
“TINGGALKANLAH SEMUA DOSA BAIK YANG KECIL MAUPUN YANG BESAR”
3. Ketika kita mendapati sisi yang baik pada diri seserang, kita tahu  bahwa di sana banyak kebaikan yang tidak terlihat oleh  mata pada awal kesempatan...
Sungguh saya sudah  mencobanya...Saya telah mencoba dengan banyak orang ... sampai dengn orang-orang yang kelihatannya pada awalnya saya kira mereka adalah orang-orang jahat atau minimal tak berprikemanusiaan...
Sedikit lembut atau ramah atas kesalahan dan kebodohan mereka, sedikit rasa kasih sayang yang hakiki kepada mereka ... maka akan tersingkap bagimu sumber kebaikan pada diri mereka, ketika mereka memberikan cinta dan kasih sayang serta kepercayaannya.[88]
Saat melihat orang yang biasa melakukan maksiat kita kebanyakan melihatnya dengan pandangan merendahkan, marah dan permusuhan bahkan pada suatu saat kita terdorong untuk melawan dan menentangnya... Tahukah     kamu apa yang terjadi kalau kita melihatnya dengan pandangan simpati dan kasih sayang?  Sungguh pasti mereka akan memberikan cinta dan kepercayaannya kepadamu kemudian mereka akan mendengarkan dan melihatmu.
Pada suatu hari seorang badui kencing di  masjid, maka orang-orang di masjid dengan segera berdiri hendak memberikan “pelajaran” kepadanya, lalu  Nabi saw bersabda: “Biarkan dia sampai selesai, siramlah air kencingnya dengan segayung air...sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan bukan untuk menyulitkan”.[89]
Sesungguhnya cita-cita dan tujuan seorang da’i yang mendasar adalah orang ini, lalu bagaimana kamu memarahi dan menyakitinya sedangkan kamu ingin mendakwahi dan menunjukinya ...?
Kita melihat sebagian pemuda kita sesuatu yang benar-benar aneh dan mengherankan dalam menghadapi manusia, padahal masalahnya masih jauh  lebih ringan dari kasus orang badui itu...ada seorang  pemuda memakai kalung dari emas masuk masjid untuk sholat. Ketika dia hampir selesai dari sholatnya seakan berlombalah  beberapa orang yang hendak mencegah dan memperingatakannya, bahkan hampir saja membuatnya keluar dari masjid ...kalau saja mereka paham,  tentulah mereka tahu bahwa pemuda ini datang kepada mereka dari panggung-panggung pertunjukan dan tempat hiburan dalam keadaan taubat pada Allah swt, seharusnya yang mereka lakukan adalah gembira dengan kedatangannya  dan menyambutnya denga sambutan yang baik.[90] Kita benci ma’siat dan marah karena Alloh jika melihat seseorang melakukan ma’siat, akan tetapi kita harus melihat pelakunya sendiri dengan pandangan sayang/lembut dan simpati.
Allah SWT berfirman :”Begitulah kalian dulu, lalu Alloh memberikan ni’mat-Nya kepada kalian”.[91]
Kamu lihat bagaimana kamu sendiri datang pada da’wah ini saudaraku?
Bukankah dengan kata-kata yang baik dari saudaramu yang melihatmu berbuat ma’siat?
Bukankah dengan pandangan kasih sayang dari seorang saudara melihat pada dirimu ada benih-benih ketaatan itu? Jadi, janganlah kamu kikir dengan kata-kata yang baik dan pandangan kasih sayang pada orang lain.
Oleh karena itu kamu seharusnya jika ingin dicintai orang lain ,”pandanglah manusia dengan pandangan lembut, kasih sayang dan simpati”
4.  ....taburkanlah cinta .....maka kamu akan menuai cinta .
Ya...sesungguhnya jika kamu ingin dicintai seseorang, maka ikhlaskan dulu dalam mencintinya  ketahuilah bahwa sebatas cintamu padanya maka sebatas itulah cintanya padamu, sebatas keihasanmu padanya sebatas itulah keikhlasannya padamu. Kita harus memberikan cinta yang tulus kepada  seluruh kaum muslimin, kita berikan cinta pada orang yang taat karena ketaatannya, maka kenapa tidak kita berikan cinta pada  orang yang berbuat dosa dengan mengharapkannya bertaubat. Ketika tumbuh dalam diri kita benih-benih cinta, rasa sayang dan kebaikan, kita telah melepaskan  beban dan masalah besar:
¨       Kita tidak butuh lagi untuk mencari perhatian orang lain, karena  saat itu kita berlaku  jujur, ikhlas ketika memberikan sedikit pujian... kita tidak meniadakan satu sisi kebaikan diri seseorang menghindarkannya untuk menerima kata-kata yang baik, akan tetapi kita tidak bisa melihatnya kecuali setelah tumbuh dalam diri kita benih-benih cinta.
¨       Begitu juga kita tidak butuh untuk membeban diri kita dengan rasa dongkol dan bahkan beban kesabaran  atas kesalahan-kesalahan dan kebodohan-kebodohan mereka karena  kita  memhami titik lemah dan kekurangan itu, kita tidak akan memantaunya untuk mengetahuinya...itu semua terjadi ketika tumbuh pada diri kita rasa sayang.
Betapa banyak ketenangan, kelapangan dan kebahagiaan yang kita dapatkan ketika kita memberikan kepada orang lain rasa kasih sayang, kelamahlembutan dan kepercayaan kita, saat tumbuh dalam diri kita rasa kasih sayang, kelemahlembutan dan kebaikan.[92]
Kita harus mulai dari sekarang untuk menanam benih cinta kepada mad’u kita dalam hati. Kemudian kita tanam benih cinta kita dalam hatinya, sehingga hubungan antara kita kuat dan kokoh, “masing-masing dari kita rindu untuk bertemu yang lain, tidak ingin berpisah, masing-masing menceritakan masalah pribadinya, makan bersama, keluar bersama... sehingga kita menjadi saudara yang haqiqi karena Allah.
Kita harus mengingatkannya akan keutamaan ukhuwah karena Allah dalam tahapan ini, balasan orang-orang yang saling mencintai karena Allah pada hari kiamat, kita ingatkan keadaan para sahabat Nabi saw dan para pendahulu yang sholeh dan lainnya pada masalah ini.
Kita bisa menggunakan beberapa buku berikut dan yang semisalnya, bisa dengan memberikannya sebagai hadiah atau kita bawa saat membicarakan masalah ini :
1.     Bab Ukhuwah karena Allah.... Ihya Ulumiddin, Imam Al Ghazali.
2.     Bab Ukhuwah karena Allah.... Riyadhush Sholihin.
3.     Ukhuwah karena Allah...  Muhammad Ahmad Rasyid.
4.     Ukhuwah Islamiyah... Abdullah Nashih Ulwan.
5.     Cinta Karena Allah... Mustofa Masyhur.
6.     Da’wah kepada Allah adalah cinta... Abbas Assisi.[93]
Kemudian pada akhirnya, setelah mad’u memahami makna cinta karena Allah, dan hal ini telah tertanam dalam lubuk hatinya... kita harus mengungkapkan perasaan kita kepadanya dengan terus terang sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw bahwa kita mencintainya karena Allah, hal ini akan menambah rasa cinta antara kita :
Diriwayatkan dari Anas ra bahwa ada seorang lelaki di sisi Rasulullah saw, lalu lewatlah di hadapannya seseorang, dia berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh saya mencintai orang ini, Beliau bersabda: “Sudahkah kamu beritahukan kepadanya?” dia menjawab: “Belum”, beliau bersabda, “Beritahulah dia!” Lalu dia berkata: “Saya mencintaimu karena Allah” Orang itu menjawab, “Semoga engkau dicintai oleh Allah karena telah mencintaiku karena-Nya”.[94]
Ingatlah selalu saudaraku...
Jika kamu ingin dicintai orang

“BERIKANLAH CINTA YANG TULUS KEPADA SEMUA MANUSIA”

5. “Hati itu ada diantara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, dia membalikkanya sesuai dengan kehendak-Nya”[95]
Kebanyakan kita melupakan causa prima dan hanya melihat kepada sebab semata, sebagai akibatnya tidak bisa mendapatkan hasil sebagaimana yang kita inginkan. “Betapa sering sebagian orang menyangka bisa menundukkan seseorang, tapi ternyata hasilnya nol, dia terhalang untuk bisa masuk ke dalam hatinya. Pada saat seperti ini dia teringat kelemahan, dan kekerdilannya, dia hanyalah perantara dari taqdir Allah, dengan menjadikannya sebagai sebab untuk sampainya da’wah kepada manusia. Lalu dia menghadap Allah dengan merendahkan diri dan mengakui kelemahannya memohon pada-Nya untuk membukakan kunci-kunci hati itu.
Kita harus berdo’a kepada Allah dengan merendahkan diri, kita tampakkan dalam do’a itu agar kita dijadikan sebab untuk sampainya kebaikan kepada manusia, dan kita berdo’a bagi orang yang akan kita da’wahi dengan menyebut namanya, semoga allah membukakan hatinya kepada kita.
Sesungguhnya do’a adalah rahasia kesuksesan, barangsiapa yang mengetahui dan mengamalkannya maka dia telah beruntung dan terbukalah di hadapannya pintu-pintu hati itu.[96] Do’a adalah senjata seorang mu’min:
Diriwayatkn dari Ali bin Tholib ra dia  berkata: “Rasulullah saw bersabda: ‘Do’a adalah senjata seorang mu’min, tiang agama, cahaya langit, dan bumi”.[97]
Saudaraku, carilah sebab-sebab dikabulkannya do’a dan ketahuilah bahwa jika berkumpul dalam do’a itu:
¨       Kehadiran hati terhadap apa yang diminta
¨       Salah satu dari enam waktu dikabulkannya do’a, yaitu: sepertiga malam yang terakhir, ketika azan dikumandangkan dan antara azan dan iqomat, setelah sholat lima waktu, ketika imam naik mimbar pada hari jum’at sampai selesai sholat, dan di akhir waktu setelah ashar pada setiap hari.
¨       Khusyu’ dalam do’a
¨       Merendahkan diri di hadapan Allah, tunduk dan tawwadhu’
¨       Menghadap kiblat
¨       Dalam keadaan suci
¨       Memulai dengan tahmid dan sholawat
¨       Mendahului permohonannya dengan taubat dan istighfar
¨       Kemudian menyampaikan maksudnya, memohon dan berdo’a pada-Nya dengan hara-harap cemas

¨       Bertawasul pada-Nya dengan asma dan sifat serta mengesakan-Nya

¨       Diiringi dengan memberikan shodaqoh
Doa seperti itu sama sekali hampir tak tertolak ... terutama jika doa itu bertepatan dengan apa yang diberitakan oleh Nabi SAW bahwa itu tempat/waktu dikabulkannya doa, atau doa itu mengandung nama Allah Teragung.[98]       
Saudaraku, angkatlah  kedua tanganmu kelangit, berdo’alah bagi saudaramu tanpa sepengetahuannya agar dia diberi petunjuk, melapangkan dadanya, serta menjadikan hidayahnya pada tanganmu, angkatlah kedua tanganmu kelangit dan berdo’alah kepada Allah untuk membukakan kunci-kunci hati yang terkunci, mendekatkan hatimu   dengan hati mad’u, berdo’alah kepada Allah swt untuk memberikan padamu cintanya dan cintamu padanya, memberimu taufiq dalam menda’wahi dan mendekatinya:
Ya Allah tunjukilah kami dan tunjuki dengan kami serta jadikanlah kami sebagai sebab bagi orang yang mendapat petunjuk.
Ya Alloh jadikanlah kami sebagai pemberi petunjuk yang terbimbing tidak sesat dan tidak pula menyesatkan.
Ya Alloh bukakanlah bagi kami kunci-kunci hati karena tidak ada yang memiliki kunci-kuncinya selain Engkau.
Ya alloh dekatkanlah hati kami dengan hati saudara-saudara kami, jadikanlah kami diatas kebaikan di dunia dan akhirat.
Saudaraku....jika kamu ingin dicintai oleh manusia
“BERDOALAH KEPADA ALLOH DENGAN IKHLAS AGAR MEMBUKAKAN BAGIMU HATI MANUSIA.”
6.     Rasulullah saw bersabda: ”Senyummu dihadapan saudaramu adalah shodaqoh.”[99] HR. Tirmidzi.
Begitulah...ketika kamu tersenyum di hadapan orang yang kamu temui,kamu telah mendaptkan pahala, kamu telah mengeluarkan sodaqoh  ...Ya, sesungguhnya setiap  muslim jika tersenyum kepada saudaranya, itulah masyarakat muslim yang ceria/cemerlang serta berkasih sayang.
Sesungguhnya seulas senyum adalah terbukanya celah rahasia-rahasia. Karena emosi yang benar/jujur dalam jiwa menggerakkan perasaan dan bersinar di wajah seperti cahaya kilat, seakan wajahpun berbicara dengan ajakan dan bisikan yang disambut oleh hati lalu tertariklah dia, disambut oleh jiwa lalu jadi jinak.[100]
Ungkapan-ungkapan air muka berbicara dengan suara yang menimbulkan akibat/efek lebih dalam daripada suara mulut. Seakan dengan senyum itu dia mengatakan: ”Saya mencintaimu, kamu membuatku bahagia, saya senang melihatmu.”[101] Tak tergambarkan efek dari senyum yang jujur diwajahmu kepada mad’umu ...senyum itu membuka hatinya terhadapmu seperti sihir, senyum itu akan menjadikn orang-orang berkumpul di sekelilingmu dari segala penjuru, terhadap hal inilah Rasulullah saw mengingatkan kita dengan sabdanya: “Sesungguhnya kalian tidak akan bisa mempengaruhi semua orang dengan harta kalian, akan tetapi cukuplah bagi mereka dengan muka ramah dan akhlak yang baik.”
Jangan kamu kira yang saya maksudkan dengan senyum itu hanya seulas senyum basa-basi kedua bibir tanpa ruh dan keikhlasan. Sama sekali bukan. Sesungguhnya yang saya maksud adalah senyum yang hakiki yang timbul dari hati yang paling dalam. Itulah senyuman yang bisa menarik keuntungan yang besar pada setiap tempat.[102]
Seorang da’i yang jujur harus merasakan cita rasa seulas senyuman dan tahu efeknya yang signifikan. Setiap kali kamu ikhlaskan niat dalam senyuman, kamu telah menggali pada batu besar, menanam benih di padang pasir hingga jadi tumbuhan dan berbunga sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia.
Sesungguhnya orang teragung yang menuliskan lembaran-lembaran keagungan, kemegahan dan kekekalan bagi Islam, mereka memeluknya dengan sebab senyum yang ikhlas atau pandangan yang luas dan terbuka, atau pergaulan yang baik atau karena kata-kata yang baik...Sedangkan kata-kata yang baik itu tidak akan musnah.[103]
Jadi itu adalah seulas senyuman yang jujur, yang membuat orang-orang berkumpul di sekelilingmu dan membukakan bagimu kunci-kunci hati, itu adalah seulas senyuman yang cerah dan indah, kamu berikan kepada setiap orang yang kamu temui, melapangkan dadanya dan membukakan pintu hatinya bagimu, dengannya kamu beroleh pahala.
Abu Dzar ra meriwayatkan, Rosulullah saw bersabda :”Janganlah kamu meremehkan kebaikan walaupun sedikit, walaupun hanya dengan wajah yang cerah saat bertemu saudaramu.”[104]
Saudaraku jika kamu ingin dicinti manusia ,
”TERSENYUMLAH DI HADAPAN ORANG YANG KAMU TEMUI.”
7.     Diriwayatkan dari Umar bin Khottob ra, dia berkata,”Ada 3 hal yang bisa mencerahkan bagimu rasa kasih saudaramu :
¨       Mulailah dengan salam
¨       Panggillah dengan nama yang paling dia sukai
¨       Lapangkanlah tempat duduk untuknya
 Betapa indah dan manisnya kata-kata “mencerahkan.” Itu adalah ungkapan yang lembut yang menghilangkan berbagai rintangan yang menghalangi menyatunya hati-hati dan jiwa-jiwa manusia.[105]
a. Dari Abu Hurairah ra dia berkata :’’kalian tidak akan masuk sorga sampai kalian beriman, dan kalian tidak berian sampai kalian saling mengasihi atau mencintai, maukah saya tunjukkan sesuatu kepada kalian jika dilakukan kalian menjadi saling mengasihi, Tebarkan salam diantara kalian.’’[106]
Begitulah Rasulullah saw meletakkan kaki-kaki kita diawal jalan kesurga, yaitu cinta karena Allah, kemudian menunjuki kita kesatu  jalan dari beberapa jalan untuk menggapai cinta, yaitu menebarkan salam, tidak cukup hanya dengan menebarkan salam, akan tetapi beliau mengarahkan untuk memulai mengucapkan salam kepada orang yang kita temui...
Abu Umamah ra berkata: “Rasulullah saw bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang lebih utama adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam”.[107]
Kemudian Rasulullh saw menjelaskan kepada kita bahwa menebarkan salam tidak hanya terbatas pada orang yang telah kamu kenal, bahkan mengucapkannya pada orang yang belum kamu kenal lebih wajib agar kamu bisa masuk kehatinya.
Abdullah bin Amr bin Ash ra meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw: “Apakah amalan dalam islam yang terbaik?”...Beliau bersabda: ’’Kamu memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”.[108]
Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada kita setelah itu adab-adab menebarkan salam dengan sabdanya: ’’Orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang jalan kaki, yang berjalan kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang banyak’’.[109] 
Sebagian orang mengucapan salam seperti komando atau perintah ketentaraan meskipun salam itu sendiri adalah penghormatan dan kata-kata dalam salam itu sendiri secara lafdziah sejuk dan indah, keselamatan, rahmat dan berkah ...
Untuk itu mengucapkan salam harus timbul dari perasan yang penuh pemahaman terhadap nama-namanya yang tinggi. Karena maksud dari  ta’aruf adalah melembutkan hati, maka ucapan salam itu harus penuh dengan ruh atau jiwa kasih sayang.
Menjawab salam hukumnya wajib, dan sebatas kesadaran dan pemahamanmu kamu bisa menawannya jika kamu menjawab salam itu dengan yang lebih baik ketika kamu menjawab dengan muka yang cerah, menghadap kearahnya dengan penuh ...Allah swt berfirman: ’’Jika diucapkan salam kepadamu jawablah dengan yang lebih baik atau dengan yang setimpal”.[110]
Kadang seseorang berkenalan dengan saudara baru, kemudian setelah beberapa waktu keduanya bertemu di trotoar...yang harus kamu lakukan adalah menghadap padanya dari arah depannya dan mengucapkan salam ...jika kamu teledor dan tidak melakukannya maka kamu telah membuang kesempatan, atau hilang kesan pertemuan pertama, karena sudah pasti pertemuan kedua mendukung pertemuan pertama .[111]
Begitulah saudaraku ...bukalah hati manusia dengan mengucap salam kepada mereka .
b. Allah swt berfirman: “Dan janganlah kalian saling memberi gelar dengan gelar yang buruk...”.[112]
Maksudnya janganlah kalian saling memanggil dengan gelar yang tidak enak didengar. Imam Sya’by berkata: “Abu Jabirah bin Dhohak bercerita padaku: “Ayat itu turun pada kami, Bani Salamah, dia berkata: “Rasulullah saw datang ke Madinah, setiap lelaki waktu itu punya dua atau tiga nama. Ketika beliau memanggil salah seorang dari  mereka dengan salah satu namanya mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia tidak suka dengan nama ini”, lalu turunlah ayat tersebut”.[113]
Diantara bentuk hinaan adalah memberi gelar buruk yang tidak disukai oleh orang yang dipanggil, dia merasa terhina dan direndahkan. Adalah merupakan kewajiban seorang mu’min untuk tidak memanggil dengan gelar yang tidak disenangi. Salah satu adab seorang mu’min adalah dengan tidak menyakiti saudaranya dengan cara seperti ini. Karena itu Rasulullah saw merubah nama dan gelar pada masa jahiliyah yang memberi  kesan merendahkan pemilik nama itu atau memberinya sifat dengan sifat hina.[114]
Kalau terhadap saudara kamu harus bersikap dengan adab yang  baik apatah  lagi dengan orang yang akan kamu da’wahi, dan kamu ingin menarik hatinya?!...Sudah pasti kamu akan menjauhi panggilan yang melukai perasaannya, bahkan bisa dipastikan kamu akan memanggilnya dengan nama yang paling dia senangi dan paling dekat di  hatinya.
Saudaraku, percayalah jika kamu lakukan itu maka kamu akan bisa menawan hatinya.
C. Allah merahmati seorang laki-laki yang melapangkan tempat untuk saudaranya ...[115]
Ini adalah diantara masalah dan kejadian yang tidak bisa digambarkan jika seseorang itu tidak mengalaminya sendiri. Bayangkanlah kamu diundang untuk menghadiri suatu pesta, ketika masuk tempat itu kamu tidak dapat tempat duduk walaupun untuk satu orang. Sudah pasti kamu salah tingkah dan malu sekali, jika ada orang yang barmurah hati karena paham firman Allah swt: ’’Wahai orang-orang yang beriman jika dikatakan kepada kalian, “lapangkanlah tempat duduk kamu”, lalu kalian melapangkannya maka Allah akan melapangkan bagi kalian”,[116] lalu dia berdiri dari tempatnya, dan dengan cepat memanggilmu untuk duduk disampingnya, sungguh hal itu telah menyelamatkan dan memelihara kehormatanmu...orang yang seperti ini tidak terlupakan keutamaannya.
Saya masih bisa merasakan kejadian macam ini sebagaimana yang diceritakan pada kita tentang shahabat yang mulia Ka’ab bin Malik ra salah seorang sahabat yang tidak ikut perang Tabuk, ketika beliau datang kepada Nabi saw setelah turun taubat dari Allah swt kepadanya Ka’ab berkata: ’’Kemudian aku pergi menuju Rasulullah saw, orang-orang memberiku kabar gembira dengan diterimanya taubatku sambil berkata, “Sungguh menghinakan penerimaan taubat Allah untukmu”, sampai akhirnya aku masuk masjid sedangkan Rasulullah saw duduk dikelilingi shahabat yang lain... lalu Tholhah bin Ubaidillah, bediri menyambutku dengan mengucapkan selamat, dan tidak ada seorangpun dari kaum muhajirin yang berdiri menyambutku selain dia....” Ka’ab tidak melupakn kejadian itu. 
Begitulah dengan sikap yang baik dari Tholhah, kesan itu tertanam di hati Ka’ab bin Malik ra.[117]
Kemudian dengarkan saudaraku -sebagai penutup- sabda Rasulullah saw mendorong kita: ”Tidaklah seorang muslim ke tempat saudaranya lalu dia memberikan bantal (alas duduk) sebagai penghormatan, kecuali akan diampuni dosanya.”[118]
Saudaraku.... jika kamu ingin dicintai manusia
“MULAILAH DENGAN MENGUCAPKAN SALAM PADA MEREKA, PANGGILLAH MEREKA DENGAN NAMA YANG PALING MEREKA SENANGI DAN LAPANGKANLAH TEMPAT DUDUK UNTUKNYA.”
8. Perusahaan telepon New York melakukan penelitian untuk mengetahui kata yang paling banyak dipakai dalam percakapan lewat telepon. Bagaimana hasilnya?
Hasilnya adalah kata ganti orang pertama (aku)... kata ini dipakai 3990 kali dalam 500 kali sambungan telephon.[119]
Memang...tiap orang mementingkan diri sendiri, itulah tabi’at manusia, apabila seseorang merasa bahwa kamu bisa atau mampu melakukan apa yang dia anggap penting bahkan kamu juga turut punya perhatian terhadap apa yang dia lakukan, sudah pasti dia akan membukakan hatinya untukmu... ’’Dengan observasi saya mendapati bahwa manusia berusaha untuk mendapatkan perhatian orang yang lebih tinggi derajatnya dan lebih mulia ...kita semua... sama saja apakah kita sebagai orang miskin atau raja sekalipun, kita rela terhadap orang yang menunjukkan perhatiannya kepada kita .[120]
Lihatlah ....kalau seandainya orang yang kamu da’wahi merasakan bahwa kamu tidak peduli dengan urusannya, tidak peduli dengan kehadiran dan absennya, tidak turut bersedih karena kesedihannya, tidak turut gembira dengan kegembiraannya, tidak pernah menanyakan kabarnya atau keluarganya, tidak bertanya keadaannya di sekolah, bagaimana ibadahnya dan bahkan semua urusan hidupnya....
Lihatlah...seandainya dia merasa bahwa dia tidak berarti sama sekali, tidak mendapat tempat walaupun selembar rambut-pun di hatimu... Apakah setelah itu dia akan mencintaimu/simpati dan hatinya terbuka untukmu?
Ada satu dasar pijakan yang perlu perhatian besar dalam perilaku manusia. Kalau kita bisa melakukannya maka tidak akan pernah mendapatkan masalah. Yaitu, jadikanlah orang lain bisa merasakan bahwa dia cukup berarti bagimu. Penyair Roma kuno mengatakan : “Sesungguhnya kita tidak punya perhatian kepada orang lain sampai mereka punya perhatian terhadap kita.”[121]
Perhatikanlah selalu -saudaraku- obyek da’wahmu. Bertanyalah tentang kabarnya, saudara dan keluarganya. Tampakkanlah selalu bahwa kamu memperhatikannya, menghargainya, waktu dan keluarganya. Jadikanlah dia selalu merasa bahwa dia orang penting bagimu, bahwa kamu tidak menelantarkannya dan kamu selalu sibuk dengannya.
Percayalah bahwa jika kamu telah melakukan itu akan ada cinta di hatinya terhadapmu. Kemudian ada kewajiban lain yang sangat penting bagimu, yaitu mencarinya bila tidak ada di sisimu, menghubunginya lewat telepon, dengan surat atau kunjungan.
Kamu tidak membayangkan betapa banyak kesan mendalam yang timbul dalam jiwa karena perbuatan yang sederhana. Lihatlah Rasulullah saw bersabda, ”...dan jika dia tidak ada maka carilah kabar beritanya....”[122]
Saudaraku...jika kamu ingin dicintai orang lain
“TAMPAKKANLAH PERHATIANMU KEPADANYA DAN JADIKANLAH DIA MERASA BAHWA DIA PUNYA ARTI PENTING BAGIMU.”[123]
9. Jika kamu ingin orang lain lari dari sisimu, menghinamu saat kamu tidak ada, inilah “resepnya.” Janganlah kamu beri kesempatan orang lain untuk berbicara, bicaralah tentang dirimu tanpa putus, jika terbersit satu ide saat orang lain berbicara jangan tunggu dia selesai bicara. Dia bukanlah orang yang pintar seperti kamu, dia tidak cerdas. Mengapa harus membuang waktu untuk mendengarkan perkataannya yang tidak bermakna?! Potonglah pembicaraannya.[124]
Seorang da’i yang jujur dan pintar adalah yang memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara tentang diri mereka. Bahkan kalau perlu mendorong mereka untuk berbicara, dengan bertanya tentang urusan dan keadaan mereka, tentang tabiat dan kebiasaan mereka. Bagaimana kamu mengulang pelajaran? Makanan apa yang kamu sukai? Buku apa saja yang kamu baca? Apakah yang paling kamu benci? Dan pertanyaan lain yang membuatnya senang untuk menjawab.
Kita senang ketika kita berbicara tentang diri kita sendiri, didengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Kalau mereka diam bertambahlah kebahagiaan kita. Jika lawan bicara kita mendorong untuk berbicara tentang diri kita maka itulah puncak kebahagiaan.
hati-hatilah selalu jika kamu berbicara. Hendaklah pada hal-hal yang kira-kira akan didengarkan oleh lawan bicaramu. Kalau kamu lakukan itu maka pembicaraanmu akan masuk celah-celah rongga dadanya dan sampai ke hatinya.
Tidak ragu lagi. Kata-kata yang baik itulah yang sampai ke hati lawan bicaramu. Kata-katamu itu merupakan shodaqoh yang menjagamu dari azab neraka pada hari kiamat. Rasulullah saw bersabda, ”Jagalah dirimu dari api neraka walau hanya dengan sebutir kurma, barang siapa tidak mendapatkannya maka cukup dengan kata-kata yang baik.”[125]
Sekali-sekali dari waktu ke waktu ajaklah bercanda untuk melembutkan hatinya, membuatnya gembira. Karena amal yang lebih dicintai Allah swt adalah membuat gembira sesama muslim. Akan tetapi jangan terlalu banyak bercanda dan tertawa karena bisa menghilangkan kekhusukan dan mematikan hati. Jadikanlah canda dalam bicaramu seperti garam dalam makanan. Rasulullah saw pun bercanda dengan para sahabatnya sekali-kali.
Diriwayatkan dari Anas ra, ”Sesungguhnya seorang laki-laki Badui -namanya Zahir- memberi hadiah kepada Nabi saw sesuatu dari kampungnya. Nabi saw menyiapkannya jika akan keluar. Nabi saw bersabda “Zahir adalah saudara Badui kita dan kita adalah saudaranya dari kota.”
Rasulullah saw mencintainya. Dia adalah seorang yang sederhana..........Pada suatu hari Rasulullah saw mendatanginya saat dia menjual dagangannya. Lalu Beliau merangkulnya dari belakang dan dia tidak tahu. Dia berkata, ”Siapa ini? Lepaskan aku.” Lalu dia menoleh. Ketia dia tahu ternyata Rasulullah saw, dia membiarkan punggungnya menempel di dada Beliau. Lalu Rasulullah bercanda, ”Siapa yang mau membeli budak ini?” Dia berkata,”Wahai Rasulullah, demi Allah engkau akan mendapat harga murah.” Beliau menjawab, ”Akan tetapi di sisi Allah engkau tidak murah .’’atau beliau bersabda,’’Engkau disisi Allah mahal .’’HR Tirmidzi.
Saudaraku...jika kamu ingin dicintai orang lain
“JADILAH PENDENGAR YANG BAIK DAN DORONGLAH ORANG LAIN UNTUK CERITA TENTANG DIRINYA, DAN BICARALAH PADA HAL-HAL YANG MEMBUAT LAWAN BICARAMU SENANG DAN FAMILIAR TERHADAPMU’’[126]
10. Diriwaytkan dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bersabda: ”Barang siapa membesuk orang sakit atau mengunjungi saudaranya fillah, dia akan dipanggil oleh penyeru, “Engkau baik dan baik usahamu serta disediakan tempat bagimu di surga.”[127]
Keutamaan dan kurnia seperti apakah sehingga aku mendapat tempat di surga karena melangkahkan kaki beberapa langkah untuk mengunjungi saudaraku fillah....?! Sudah pasti itu adalah keutamaan yang banyak dan kurnia yang besar.
Kamu tidak membayangkan betapa banyaknya kesan yang baik yang ditimbulkan dari sebuah kunjungan, terhadap jiwa orang yang kamu da’wahi. Dengan kunjungan itu dia merasa bahwa kamu memperhatikannya, mengorbankan waktu dan tenaga serta barangkali harta demi untuk melihatnya dan beramah tamah.
Kesan dari kunjungan itu akan bertambah lagi jika salah seorang saudara atau keluarganya sakit, atau bahkan dia sendiri yang sakit. Sudah pasti dalam keadaan itu dia dekat dengan Tuhannya, hubungannya kuat dengan-Nya. Jika kamu segera datang saat sakitnya, menghiburnya dengan pembicaraan ringan, lembut dan menyentuh, mendoakannya agar segera sembuh, maka macam cinta apa lagi dan kasih sayang yang akan terkesan dalam hatinya?!
Kemudian bertambah lagi tanggung jawabmu untuk mengunjungi obyek da’wahmu jika dia merupakan salah satu kerabatmu. Karena kamu mempunyai kewajiban silaturahmi sebagaimana firman Allah terhadap rahim, ”Relakah kamu jika Aku menyambung hubungan dengan yang menyambung hubungan denganmu, dan Aku putuskan orang yang memutuskan hubungan denganmu?”[128]
Setelah itu jika ikatan diantara kalian sudah semakin kuat, kalian sudah terikat dengan cinta yang besar karena Allah. Sudah pasti dia akan mengundangmu untuk mengunjunginya dan kamu harus menyanggupinya saat itu juga. Janganlah kamu mencari-cari alasan dengn banyak kesibukan, tidak ada waktu luang, karena dengan demikian kamu telah menjauhkan hatimu dari hatinya....Perhatikanlah sabda Rasulullah saat beliau menhitung hak-hak seorang muslim.
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lain ada lima: menjawab salam, mengunjungi yang sakit, mengantar jenazah, mendatangi undangan dan mendoakan yang bersin.” [129]
Diantara kesan kunjungan yang lain, kamu bisa mengenal obyek da’wahmu dari dekat, kamu bisa mengenal saudara-saudaranya, keluarganya, tempat tinggalnya, lingkungan tempat tinggalnya.... Kemudian kamu juga bisa mendapati -barangkali-teman-temannya yang lain mengunjunginya dan kamu bisa mengenal mereka untuk membuka lahan da’wah baru.
Mengunjungi satu obyek da’wahmu akan membuka semua pintu-pintu kebaikan.
Mengapa kamu kikir dan kamu hilangkan kesempatan itu dari hadapanmu?!
Saudaraku....jika kamu ingin dicintai orang lain
“PERHATIKANLAH ORANG DISEKITARMU DENGAN KUNJUNGAN, KHUSUSNYA    JIKA SALAH SEORANG DIANTARANYA SAKIT ATU MENGUNDANGMU.”
11. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rarasulullah saw bersabda,’’Hendaklah   kalian saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai ...’’[130]
Dari Abu Hurairah RA bahwa Rarasulullah saw bersabda : “’’Hendaklah   kalian saling memberi hadiah, karena hadiah akan menghilangkan rasa dengki ...”.[131]
Begitulah hadiah atau membuka pintu besar kasih sayang dan cinta, membersihkan hati dari sifat dengki, hasud dan marah ...
Allah swt telah mengkhususkan satu bagian dari  zakat untuk muallaf. Sedang Nabi saw memberikan suatu pemberian kepada orang-orang pada saat itu untuk melunakan hati mereka.
Imam Thabari meriwayatkan dari Sofyan bin Umayah dia berkata:’’ Rosulallah saw telah memberiku hadiah padahal beliau orang yang paling aku benci, beliau terus memberiku hadiah sampai akhirnya beliau jadi orang yang paling saya cintai’’.
Imam Muslim meiwayatkan dari amat bin Malik ra dia berkata: ’’Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi saw, beliau memberinya domba dua diantara dua gunung, lalu dia pulang kekaumnya dan berkata kepada mereka: ’’Wahai kaumku masuk islamlah kalian, sesungguhnya Muhammad memberikan hadiah seperti  orang yang  tidak takut miskin”. Meskipun dia masuk islam karena harta dunia, tapi itu tidak lama, sampai akhirnya islam adalah sesuatu yang lebih dia cintai dari pada dunia dan seisinya .
Sesungguhnya beberapa lembar rupiah yang kamu belanjakan untuk obyek da’wahmu sebagai hadiah, akan membuka pintu yang luas pada irinya dan jadi jalan tol untuk segera sampai kehatinya.      
Usahakanlah saudaraku, agar hadiahmu yang pertama adalah hadiah biasa; pulpen, jam, medali, sepatu, buku pelajaran atau yang lainnya. Setelah itu baru mungkin hadiah yang islami, yang bermanfaat. Satu ayat/kaligrafi yang terbingkai atau yang lainnya. Sepotong manisan barangkali kamu menganggapnya remeh, padahal itu adalah kunci baru dari kunci-kunci hatinya.
Saudaraku alangkah baiknya kalau hadiah itu pada momentum yang tepat, minimal yang pertama. Seperti tahun baru, berhasil dalam ujian, atau menang dalam suatu lomba. Kalau tidak ada momentum yang tepat bisa saja kamu cari-cari alasan yang pantas untuk memberikan hadiah. Bisa juga kamu merekayasa suatu lomba agar dia menang dengan hadiah yang cukup bernilai, karena kamu tidak tahu -demi Alloh- kesan itu padanya.
Saudaraku, berinfaqlah pada obyek da’wahmu dengan hartamu dan janganlah kamu kikir untuk mendapatkan pahala. Ingatlah ucapan Bilal bin Robah ra Rasulullah berwasiat kepadaku, ”Berinfaqlah dan janganlah kamu takut terlantar.”[132]
 Saudaraku  ... jika kamu ingin dicintai orang lain          
’’ PERBANYAKLAH HADIAH KEPADA ORANG YANG ADA DISEKITARMU’’
12. ’’ Sebaik-baik amal adalah memberikan kegembiraan kepada seorang mu’min, kamu tutup auratnya, atau memberi yang lapar, atau menutupi kebutuhannya .[133]       
Jika kita ingin mendapatkan teman, kita harus meletakkan diri kita sebagai penolong orang lain, ringan tangan atau suka membantu dengan ikhlas tidak egois dan mementingkan  urusan pribadi[134]                             
Saudaraku ...bayangkanlah bahwa temanmu sedang masalah, dia bingung menyelesaikannya, lalu kamu segera mendatanginya untuk membantunya pergi bersamanya, datang memberikan atau mengorbankan tenaga waktu dan hartamu, sampai Allah menyelesaikan hajatnya dengan sebab bantuanmu, hilang keluhan dan keresahan karenamu ...cinta apakah yang akan tertanam di hatinya, rasa syukur bagimana lagi yang akan terucap dari mulutnya ...sudah pasti itu adalah hikmah yang besar yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw kepada kita, akan banyak jalan untuk mencapai hati dan beliau menghitungnya sebagai suatu sodaqoh.
Abu Dzar meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: ’’Pada setiap nafas bani Adam harus mengeluarkan sodaqoh pada setiap terbit matahari: Dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah dari mana kami mendapatkan harta untuk sodaqoh? Beliau menjawab: “Sesungguhnya pintu kebaikan itu banyak :
¨       Tahmid, takbir dan tahlil
¨       Amar ma’ruf nahi mungkar
¨       menyingkirkan duri dari jalan
¨       membimbing orang buta
¨       menunjuki orang yang minta petunjuk
¨       berusaha sekuat tenaga membantu orang yang minta pertolongan
¨       membantu mengangkat barang orang yang lemah
ini semua adalah sodaqoh darimu untuk dirimu sendiri”.[135]
Dari Abu Hurairah ra dia berkata Rasulullah saw bersabda:
”Barangsiapa melepaskan satu kesulitan dari seorang muslim di dunia… Allah akan melepaskannya dari satu kesulitan dari beberapa kesulitan pada hari kiamat.
Barangsiapa memudahkan orang yang sedang kesulitan Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.
Barangsiapa menutupi rahasia seorang mu’min Alloh akan menutupinya di dunia dan akhirat.
Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya”.[136]
Saudaraku, jadikanlah hajat saudaramu seperti hajatmu sendiri atau lebih penting dari hajatmu. Selayaknya kamu selalu memperhatikan waktu-waktu hajat itu tanpa lalai tentang keadaannya sebagaimana kamu tidak lalai tentang keadaanmu sendiri.
Jangan sampai dia meminta dan menampakkan bahwa dia butuh bantuan. Kamu harus menunaikan hajatnya seakan-akan kamu tidak tahu bahwa kamu sedang melakukannya dan janganlah kamu melihat ada imbalan dengan apa yang telah kamu lakukan. Percayalah bahwa jika kamu lakukan itu maka kamu akan jadi orang yang lebih dia cintai dari keluara dan kerabatnya, bahkan barangkali kamu lebih dia cintai dari pada dirinya sendiri.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra dia berkata: “Ketika kami sedang dalam perjalanan bersama Nabi saw, datanglah seorang laki-laki berkuda, melihat ke kanan dan kiri, lalu Rasulullah saw bersabda: ’’Barangsiapa yang punya tunggangan lebih hendaklah dia memberikan kepada yang tidak punya dan barang siapa punya kelebihan bekal hendaklah memberikan kepada yang tidak punya.’’ (HR Muslim) .....sebagian ikhwah memiliki mobil pribadi, dan pada banyak kesempatan mereka hanya sendiri atau masih ada tempat duduk kosong, itu kesempatan bagi orang-orang yang berdiri dipinggir jalan berjam-jam mengharapkan bantuan orang-orang  yang bermurah hati, sudah pasti orang yang mau menolong dan itu adalah suatu kewajiban, akan meninggalkan kesan yang mendalam sesudahnya bagi orang tersebut.[137]
“Pada suatu saat Mesir pernah digemparkan oleh banyaknya perampok yang beroperasi pada malam hari, mereka menghentikan mobil-mobil yang lewat untuk minta bantuan seakan telah terjadi musibah pada mereka atau sekan karena sebab yang lain, kalau ada mobil yang berhenti mereka dengan segera menghambur dan menyerbunya, merampas harta dan pakaian-pakaian penumpangnya, pada saat itu “Hasan Al-Banna” pulang ke Kairo pada dini hari, dia melihat sebuah mobil di pinggir jalan, dan seorang lelaki berusaha menghentikan mobilnya, tanpa ragu sesaatpundia meminta sopir untuk menghentikan mobil, lalu dia turun sendirian bertanya pada orang itu apa yang dia inginkan, dia mengatakan bahwa bensinnya habis dan minta tambahan bensin. Hasan Al-Banna langsung mengambil tempat untuk memindahkan bensin dari mobilnya ke mobil orang tersebut tanpa bertanya lebih dahulu siapa namanya, hobinya, agamanya, atau pekerjaannya. Itulah sikap yang diambil orang-orang cerdas yang melakukan kebaikan tanpa pamrih…orang tersebut terkejut dengan dengan perlakuan yang baik ini, kemudian dia mendekat ke Imam Syahid sambil memperkenalkan diri: “Saya Muhammad Abdur Rasul, Qadhi di pengadilan negeri Kairo, …anda siapa? Dengan tawadhu’ beliau menjawab, “Saya Hasan Al-Banna, guru di Madrasah Ibtidaiyah….” Qodhi itu bertanya: “Hasan Al-Banna mursyid ‘am Ikhwanul Muslimin?” Beliau menjawab: “Ya…”
Sejak saat itu almarhum ustadz Muhammad Abdur Rasul menjadi salah satu lidah yang bersih, berbicara tentang Ikhwanul Muslimin pada persidangan.”[138]
Terlihatkah olehmu karena satu kebaikan yang kamu lakukan kepada orang yang tidak kamu kenal betapa gembira hatinya…
“Anak perempuanku, mahasiswi di Universitas Iskandariyah, mengatakan bahwa ketika dia sedang berada di halaman fakultasnya bersama teman-temannya yang berjilbab, mereka melihat salah seorang temannya yang tidak berjilbab terjatuh, dengan segera mereka menghambur untuk menolongnya. Ketika siuman dan mendapati semua yang ada di sekelilingnya berjilbab dia kaget, seraya berkata: “Demi Allah, sama sekali saya tidak berfikir dan tidak membayangkan bahwa perasaan kalian seperti ini.”[139]
Apakah kamu melihat efek dari bantuanmu bagi yang membutuhkan bagaimana menampakkan akhlaqmu yang islami dan membuatnya tertarik padamu...
¨       jika ibumu masuk rumah pada suatu hari dan mendapatimu telah merapikan seisi rumah ...
¨       jika ayahmu menyuruhmu untuk satu keperlun khusus lalu kamu menunaikannya dengan segera dan penuh perhatian…
¨       jika saudaramu datang dalam keadaan capek pada suatu hari lalu kamu menyiapkan makanan yang enak lalu kamu hidangkanya padanya ...
¨       jika tetanggamu ingin mengisi tabung gas lalu kamu segera membantunya ...
¨       jika salah seorang temanmu mencari pelajaran yang terlewatkan lalu kamu  bersusah payah kemudian memberikan catatan padanya...
¨       jika temanmu mendapat masalah lalu kamu pergi bersamanya kepada penanggung jawabnya untuk mencari solusi ...
¨       jika temanmu membutuhkan uang lalu kamu menjadi orang yang cepat menolongnya...
jika...jika...jika...kamu lakukan ini semua  ...maka yakinlah bahwa kamu telah melawan, hati   temanmu dan ruhnya sekal.
Saudaraku...jika ingin dicintai orang lain
”JADIKANLAH DIRIMU SELALU SEBAGAI PENOLONG ORANG LAIN.’’
13. Allah swt berfirman: ’’Dan Allah menjadikan bagi  kalian pendengaran, penglihatan dan hati agar kalian bersyukur.”[140]
Manusia hanyalah merupakan kumpulan dari susunan indera... indera pendengar, indera penglihatan, perasa, pencium dan peraba  ... tanpa indera ini manusia akan tersisih dari lingkungannya, bayangkan seseorang yang tidak bisa mendengar, tidak melihat dan tidak merasa, bagaimana keadaannya?
Seorang da’i yang cerdas adalah yang memakai semua indranya dalam berda’wah, bereaksi dan menarik cinta mereka ...
Itulah seorang da’i yang memberi atau mengirimkan pandangan kasih sayang, kelembutan dan cinta, itulah seorang da’I yang menyalami saudaranya dan memeluknya untuk menanamkan cinta di dadanya... 
Saudaraku ...itulah -tanpa ragu- seorang da’i yang berhasil.
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa memandang saudaranya dengan pandangan kasih sayang maka Allah akan mengampuninya.’’[141]
Apakah pandangan ini pandangan sepintas, ataukah pandangan ini pandangan terarah, berkesan lagi mengugkapkan banyak hal? pandangan menuju ke hati berbicara padanya dengan perasaan lembut, mengguncang, dan menawannya.            
Itu adalah pandangan yang terfokus seperti lampu blizt, tersingkap lalu mengambil gambar terbagus dalam sesaat seperti kedipan mata, hati-hati pun bertemu jiwapun berangkulan. Hal ini tak akan terjadi tanpa pandangan yang bersih dan suci, pandangan kasih sayang dan cinta karena Alloh SWT.
Itulah pandangan dari kekuatan insan yang tersembunyi dari kekuatan jiwanya. Bersumber dari aqidah yang tidak akan bertemu atas dasar kebencian ataupun berlawanan, karena dia jujur, kokoh dan tidak plin plan.
Tidakkah kalian mendapati dari sirah Rasul SAW nilai sebuah pandangan? Marilah kita lihat kisah Ka’ab bin Malik, Allah swt telah menetapkan  boikot dari kaum muslimin kepada 3 orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk, Ka’ab bin Malik ra berkata: ’’Kaum muslimin memboikot kami selama 50 hari sampai bumi terasa sempit bagi kami ’’dan terasa sempit atas diri mereka, dan mereka menyangka bahwa tidak ada tempat lari kecuali pada-Nya.”[142]
Adapun aku, adalah orang yang paling keras, aku keluar menghadiri sholat jamaah dengan kaum muslimin yang lain. Aku berkeliling di pasar dan tak seorangpun bicara padaku. Aku datangi Rasulullah saw di majelisnya lalu mengucapkan salam. Aku berkata dalam hati apakah Beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salam atau tidak. Kemudian aku duduk  dekat beliau....Aku mencuri-curi pandang, jika aku mengahadap untuk shalat Beliau melihatku, dan jika aku menoleh padanya, Beliau memalingkan muka dariku.
Wahai ikhwan, itu adalah boikot atas perintah Allah swt. Meskipun demikian Rasulullah saw -yang diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin- memandang ke arah Ka’ab bin Malik sebagaimana Ka’ab mencuri-curi pandang pada Beliau.
Jika kita kehilangan pandangan dengan perasan yang baik seperti ini, maka kita telah kehilangan kehidupan dan cahaya. [143]
Ini tentang pandangan. Bagaimana dengan pendengaran.....Dengarkanlah Jabir bin Abdullah ra berkata, ”Rasulullah saw bersabda, wahai Jabir untuk apa kamu datang? Saya menjawab, ”Saya ingin masuk Islam di tanganmu wahai Rasulullah.” Dia berkata: ”Lalu saya diberi pakaian ...”, Kemudian dia menghadap kepada sahabatnya, ”Jika datang kepada kalian pemuka kaum maka muliakanlah ...” Kemudian Beliau bersabda: ”Wahai Jabir, aku mengajakmu untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh, bahwa aku adalah utusan Alloh, kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, takdir baik dan buruk, shalat wajib dan menunaikan zakat.” Lalu aku mengerjakan itu. Setelah itu Beliau tidak melihat kepadaku kecuali dengan senyuman....[144]
Rahmat dan hikmah apakah yang memancar darimu wahai Rasulullah, beliau tidak mencukupkan hanya dengan hadiah untuk melembutkan hati mad’unya. Akan tetapi Beliau menuangkan pada kedua telinganya kata-kata yang membuat hati nuraninya bergetar (jika datang pada kalian pemuka kaum maka muliakanlah) kemudian mengajaknya dengan baik dan nasihat yang baik, kemudian selalu tersenyum bila bertemu dengannya. Ketahuilah hendaknya para da’i belajar bagaimana berda’wah.
Kemudian lihatlah indera peraba bagaimana perannya dalam da’wah. Dikatakan kepada Abu Dzar ra, ”Apakah Rasulullah saw menyalami kalian jika kalian menemuinya?” Dia menjawab, ”Tidak pernah sama sekali aku menemuinya kecuali Beliau menyalamiku. Pada suatu hari Beliau mengirim utusan sedangkan aku tidak di rumah. Ketika pulang aku diberi tahu. Lalu aku datang sedang Beliau di atas dipan. Lalu beliau mendekat padaku... itu adalah hal yang terbaik.”[145]
Bersalaman bukanlah sekedar gerakan kosong, akan tetapi merupakan gerakan dari dalam jiwa dan juga indera sekaligus. Tangan dengan jari-jarinya adalah alat indera yang sensitif, mengirim dan menerima isyarat-isyarat yang tampak di wajah dan getaran-getaran hati.
Bersalaman menunjukkan sampai dimana jarak antara hati. Ada di antara mereka yang bersalaman denganmu sebagai basa-basi, ada yang asal menempel, ada yang sambil menoleh ke kanan kiri, dan ada juga yang menyalamimu dengan kuat, dia memandangmu sampai kamu bisa melihat bayanganmu di matanya dan wajahnya yang cerah.
Sesungguhnya dengan bersalaman dosa-dosa akan berjatuhan...diriwayatkan dari Baro’ bin ‘Azib ra berkata: ’’Rasulullah bersabda: ’’Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu bersalaman melainkan Allah mengampuni dosa keduanya sebelum keduanya berpisah.”[146]
Jika Rassulullah saw menyalami seseorang, beliau tidak melepaskan tangannya sampai orang yang dia salami melepaskannya, sebagai pelajaran bagi kita .
Dalam sirah diriwayatkan dari Muazd bin Jabal ra bahwa Rasulullah saw memegang  tangannya dan bersabda: “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaaimu, aku pesan padamu janganlah kamu tinggalkan setiap selesai sholat fardhu untuk berdo’a: Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik pada-Mu”.[147]
Perawi hadits telah mencatat bahwa Rasulullah saw memegang tangan Mu’adz bin Jabal, karena para sahabat tahu nilai gerakan ini dan maknanya, dan untuk itulah mereka mencatatnya.
Sesungguhnya jabatan tangan tidak akan terjadi melainkan antara dua hati yang saling mencintai, dan tidak akan terulurkan satu tangan kepada yang lain dengan gerakan kosong, sesungguhnya itu digerakkan oleh hati dan akal secara bersamaan. Janganlah lupa ketika kamu meletakkan tanganmu di atas pundak orang yang kamu cintai, sesungguhnya itu adalah usapan yang mengungkapkan banyak hal dan sangat berkesan.
Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah ra dia berkata: “Zaid bin Haritsah datang ke Madinah sedang Rasulullah saw saat itu ada di rumahku, dia mendatanginya dan mengetuk pintu, lalu beliau menghampirinya, memeluk dan menciumnya.”[148]
Begitulah saudaraku, jka kamu bertemu dengan mad’u-mu pandanglah dia dengan penuh kasih sayang, cinta dan persaudaraan serta ucapkanlah kata-kata yang menyejukkan hati dan jiwanya. Jabatlah tangannya kemudian letakkan tanganmu di atas tangannya sehingga berhubunganlah cinta yang agung antara hatimu dan hatinya...lakukanlah itu dan cobalah kemudian tunggulah hasilnya.

Saudaraku … jika kamu ingin disenangi orang lain

“GUNAKANLAH SEMUA INDRAMU DALAM MENDEKATI MEREKA”

14. Rasulullah saw bersabda: “Sambungkanlah hubungan dengan orang yang telah memutuskan hubungan denganmu, dan berilah makan orang yang tidak memberimu, serta maafkanlah orang yang menzalimi dirimu”.[149]
Orang yang menjadi obyek da’wahmu kebanyakan berlaku buruk kepadamu, itu karena kebiasaan jahiliyahnya dan pemikirannya masih sampai tahap permulaan.
Kembalikanlah pada Allah… apa yang akan dia perbuat kalau dia berlaku buruk padamu kemudian kamu berlaku baik padanya.
Kembalikanlah pada Allah…apa yang akan dilakukan ayahmu jika dia marah tanpa alasan yang jelas kemudian kamu segera minta maaf padanya.
Kembalikanlah pada Allah…apa yang akan dilakukan ibumu jika dia menolak permintaanmu lalu kamu memberinya hadiah pada hari berikutnya.
Kembalikanlah pada Allah…apa kiranya yang dilakukan saudaramu jika dia ribut denganmu, mencacimu sedang kamu memendam kemarahanmu dan memaafkannya kemudian setelah itu kamu berbuat baik padanya.
Kembalikanlah pada Allah…apa kiranya yang dilakukan temanmu jika dia menjauhimu dan memutuskan hubungan denganmu kemudian dikejutkan oleh ketukanmu pada pintunya.
Kembalikanlah pada Allah…apa kiranya yang akan dilakukan oleh mereka…sesungguhnya gunung api cinta akan meletus dalam hati mereka kepadamu tanpa ragu lagi, tidakkah kamu lihat hal itu?!
Syaikhani meriwayatkan dari Anas bin Malik ra dia berkata: “Saya sedang berjalan bersama Rasulullah saw, beliau memakai burdah yang berasal dari daerah Najran dengan list tebal di pinggirnya, lalu datanglah seorang badui gunung menghampirinya, dia menarik burdah itu dengan kuat. Lalu saya lihat kulit pundak beliau saw, ada bekas list burdah karena kuatnya tarikan badui itu. Kemudian dia berkata: “Wahai Muhammad, berilah aku sebagian dari harta Allah yang ada padamu…”, beliau menoleh padanya, lalu tertawa, kemudian menyuruh orang untuk memberinya hadiah”.
Betapa pengasihnya engkau, betapa sayangnya engkau dan betapa bijaksananya engakau wahai Rasulullah saw.
Dengarkanlah Imam Syahid Hasan Al Banna saat memberikan arahan pada kita, katanya, “Jadilah kalian seperti sebatang pohon…
Manusia melemparinya dengan batu
Lau dia memberikan kepada mereka buahnya…
Saudaraku…jika kamu ingin dicintai manusia

“BALASLAH KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN”

15. Rasulullah saw bersabda : “Syaithan bersama orang yang sendirian, sedang dengan dua orang dia lebih jauh”.[150]
Barangkali kamu tidak punya pengaruh di lingkunganmu…
Barangkali pengalamanmu dalam menundukkan hati masih sedikit…lalu apa yang mungkin kamu lakukan?!
Sudah pasti ada diantara temanmu yang berpengalaman dalam bidang ini, mungkin dia bisa membantumu. Kamu  harus minta bantuannya. Kenalkan mad’u-mu kepada mereka, pesanlah kepada mereka untuk memperlakukannya dengan baik, kemudian pantaulah buah dari perkenalan dan pertemuan tersebut.
Sesungguhnya keberadaan mad’u-mu diantara teman-temanmu menjauhkannya dari syaitan, mendekatkan hatinya dengan hati kaum muslimin, maka hatinya akan menjadi lapang dengan izin Allah swt.
Tahukah kamu …apa yang akan terjadi seandainya ayahmu berkenalan dengan saudara-saudaramu seiman lalu dia merasa nyaman dan tenang.
Tahukah kamu …apa yang akan terjadi seandainya saudara kandungmu berkenalan dengan ikhwahmu seiman di masjid atau fakultas atau tempat kerja dan hatinya menjadi lapang.
Tahukah kamu …apa yang akan terjadi seandainya temanmu berkenalan dengan ikhwahmu di masjid atau kuliah atau tempat kerja dan  mereka  bicara dengan lembut dan penuh dengan senyuman.
Tahukah kamu …apa yang akan terjadi pada semua keadaan ini …sungguh itu adalah satu kemenangan besar bagi hati-hati itu, tanpa ragu lagi.
Saudaraku…jika kamu ingin disenangi orang lain

“PERSIAPKANLAH UNTUK MENGENALKAN IKHWANMU KEPADA MAD’U-MU”


SEKARANG SAJA…DIA MENCINTAIMU

Tahukah kamu saudaraku, kapan kamu akan selesai dari tahapan ini?...Tidak harus dengan waktu tertentu. Tahapan ini tidak akan berakhir. Tahapan ini akan terus berlangsung sepanjang hidupmu, kamu harus seperti ini, berlaku lemah lembut kepada orang lain, saling berbagi rasa kasih sayang...
Akan tetapi mungkin kamu mengatakan bahwa kamu bisa melewati jalan tol bersama obyek da’wahmu jika kamu mulai dengan menaburkan benih-benih cinta tumbuh dalam hatinya, dengan tiba-tiba dia membalas cinta dengan cinta, kasih sayang dengan kasih sayang...
Kemungkinan kamu bisa menyingkap hal ini jika kamu menguasainya dengan baik...perhatikanlah sebagian tanda-tanda yang bisa membantumu:
¨       Jika bertambah rasa cintamu padanya, ketahuilah bahwa rasa cinta dalam hatiya telah tumbuh, karena tidak akan tumbuh rasa cinta itu tanpa cinta.
¨       Jika dia memintamu untuk membicarakan masalahnya, meminta pendapatmu tentang masalah itu, dan khususnya jika masalah itu adalah masalah pribadi.
¨       Jika dia lari padamu –setelah pada Tuannya- dalam satu kesulitan, memintamu untuk membantunya. Sesungguhnya seseorang tidak akan lari melainkan kepada orang yang dia percayai dan dia cintai.
¨       Jika dia mentaatimu ketika kamu memintanya untuk mengerjakan sesuatu, sesungguhnya seorang kekasih taat pada kekasihnya, khususnya jika dia mentaatimu dengan segera dan mengerahkan segenap kemampuannya demi kepuasanmu.
¨       Jika dia memberitahumu dengan jujur bahwa dia mencintaimu...kamu akan mendapatinya pada suatu hari dia memegang tanganmu sambil berkata: “sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah...disinilah gunung api cinta akan meletus dalam hatinya.
¨       Jika dia menambah beban bersama, lalu dia bicara dengan sederhana padamu, dan hartanya jadi seperti hartamu dan hajatnya seperti hajatmu.
¨       Jika dia menghasilkan banyak waktunya dengan senang, lalu dia memintamu untuk menemaninya, belajar bersamamu, pergi bersama jika dia ada hajat yang ingin dia selesaikan...ketika itu sudah pasti dia senang bersamamu.
¨       Jika kamu rindu untuk melihatnya saat dia tidak ada di dekatmu, menemuimu dengan berangkulan hangat dengan jujur, mencelamu karena meninggalkannya dalam waktu yang panjang.
¨       Jika dia bersungguh-sungguh dalam ibadah dan ketaatannya, sesungguhnya cinta pada orang soleh menimbulkan cinta pada Tuhan semesta alam
Poin-poin di atas menunjukkan padamu –dengan sesungguhnya- bahwa temanmu telah mencintaimu, kamu telah berhasil sampai batas tertentu,...sekarang kamu harus pindah ke tahapan taujih dan ta’lim dengan perlahan-lahan...Allah Maha Penolong dan kepada-Nya tempat Berlindung dan Tawakkal.


LANGKAH KE 4
MENYAMPAIKAN PEMIKIRAN
Katakanlah ini jalanku ...
Aku mengajak kepada Allah atas dasar yang jelas...
Aku dan orang yang mengikuti ...
Maha suci Allah dan bukanlah aku termasuk orang Musyrik.” (QS. Yusuf:108)
Serulah di jalan Tuhanmu dengan hikmah ...
dan nasehat yang baik ...
dan dekatilah mereka dengan cara yang baik ...
Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui terhadap orang yang sesat dari jalan-Nya dan dia Maha mengetahui terhadap orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An.Nahl 125)

SERULAH  KEPADA ALLAH DENGAN BASHIROH
Jika kita telah sampai pada tahap terakhir dalam da’wah fardiah, yaitu bicara pada masalah da’wah dan masalah agama, kita harus punya langkah yang bijaksanadan teruji, dan jika kita ingin mengungkap bersama-sama langkah-langkah ini akan kita dapati urutan berikut :
A. LANGKAH  PERTAMA : Membangkitkan Iman dalam hati mad’u.
Sesungguhnya cinta pada Allah swt dan selalu taqarrub darinya itulah kehidupn hati yang hakiki barang saipa merasakanya maka dia telah beruntung dunia dan akhirat ...Oleh karena itu pemusatan pada hati dan apa-apa yang yang bisa membersihkannya, adalah tahapan-tahapan yang penting dalam da’wah kepada Allah. Ini akan menjadikan mad’u menimbang masalah dengan timbangan takut kepada azab Allah swt, bukan timbangan dunia .[151]   Sesungguhnya hati yang punya hubungan dengan Allah swt, yang penuh dengan Iman mendapati beban-beban itu mudah dan ringan dilaksanakan dan mendapati ma’siat sebagai sesuatu yang susah dan berat, oleh karena itu membangkitkan iman di hati mad’u adalah langkah awal dan terpenting di jalan yang akan menyampaikannya kepada Allah swt ...yakinlah bahwa iman yang kuat dalam hati mad’u akan mendorongnya untuk taat, dan akan mencegahnya  dari perbuatan ma’siat.
Membangkitkan iman dalam hati mad’u bisa dilakukan  dengan hal-hal berikut:
Membaca Al-Qur’an bersama-sama, sesungguhnya hal itu akan menambah iman dalam hatimu dan hatinya, kamu harus mendorongnya untuk memperbanyak tilawah, bacakanlah ayat-ayat berikut ini:
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik(yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang  yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.”[152]
Arahkan pandanganya untuk mempelajari ayat-ayat kauniyah dan qauliyah...alam  yang indah disekitar kita...akan tetapi yang utama  adalah agar hal itu datang secara alami, tanpa disengaja, dengan menggunakan kesempatan yang ada seperti saat melihat burung terbang atau tumbuhan atau serangga atau makhluk apapun diantara makhluk Allah, kemudian kamu bicara padanya tentang kekuasaan Allah, kreasi dan keagungan-Nya pada ciptaan-Nya ini .[153]  
“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka perskutukan dengan Dia?” Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antar dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyankan mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan di lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apkah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah: “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.”[154]
Dengan membacakan ayat-ayat ini, mengulang-ulang tafakkur makhluk Allah, dengan izin Allah akan membuahkan pengagunggan kepada Allah swt ...
Maka hiduplah hatinya, jadi tinggilah jiwanya dan bangunlah manusia dari kelalaiannya .
-         Mengingatkannya dari waktu ke waktu kepada hari akhir, hisab, shiroth, hari berbangkit, surga dan neraka... bisa dengan membawanya ke kuburan untuk mengingatkanya kepada kematian, membaca buku-buku tentang salafus sholih .   
-         Membangunkannya untuk sholat shubuh jika dia tidak bangun, berpuasa, berbuka bersama, berusaha untuk sholat malam dua rakaat...sesungguhnya sujud pada malam hari dan rukuknya serta membaca Al-Qur’an saat fajar dan menetesnya air mata  akan mendekatkan manusia pada  Tuhan dan membangkitkan iman dalam hatinya.
Demikianlah percakapan sekitar masalah keimanan, ketika keimanan itu bangkit, seseorang akan mulai mengintrospeksi dirinya sendiri, dia akan merasa kalau dia tetap seperti pada keadaanya sekarang -lalai dan lengah, selalu ma’siat kepada Allah tidak taat padanya- dia akan mendapat azab dari Allah pada hari kiamat sedang saat itu tak ada tempat berlari. Kemudian kita harus menjelaskan bahwa ujian bagi orang yang bekerja di jalan Allah adalah merupakan sunnatullah...ya, kita menjelaskanya dari tahapan ini sehingga bangunan itu punya pondasi...kita harus membacakannya ayat-ayat Ali Imron ayat140-142:
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. Apakah kamu amengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”
Kita ingatkan akan ujian yang dihadapi oleh Nabi saw dan para sahabatnya dan yang dihadapi oleh para da’i kepada Allah sesudah mereka...kita ingatkan dengan perkataan Imam Syafi’i m ketika ditanya  mungkinkah  seorang mu’min mendapat cobaan, beliau berkata: “Dia tidak akan jadi mu’min sampai mendapat ujian.”
B.LANGKAH  KEDUA: Bertemu untuk taat kepada Allah dan meninggalkan ma’siat:
Langkah kedua ini bisa dilaksanakan dengan membuat kesepakatan dengannya untuk menghafal sebagian Al-Qur’an, atau puasa sehari misalnya, atau qiyamullail, atau membaca sebuah buku yang sesuai dengan kemampuannya. Pemantauannya bisa dilakukan saat bertemu dengannya. Dan kesepakatan untuk mengerjakan hal-hal yang lain.
Hal ini bisa meningkatkan ruhiyahnya dan mendekatkannya pada Tuhan. Bisa juga diajak untuk menghadiri pengajian-pengajian umum dan diperkenalkan kepada ikhwannya yang sholeh.
Selain diingatkan untuk melakukan hal-hal yang baik, dia juga harus diingatkan dengan efek dari dosa-dosa dan ma’siat. Bagaimana dosa-dosa itu menjadi sebab kehancuran umat sebelum kita. Kita ingatkan bahwa dosa menjadi sebab kemarahan Allah. Kita bantu untuk meninggalkan dosa-dosa dan menjauhkan diri dari teman-teman yang berperilaku buruk yang mempengaruhinya untuk berbuat dosa.
Kita harus komitmen...saudaraku...sabar dan tabah pada tahapan ini. Kadang masalahnya sulit. Kamu akan meraih kesuksesan dengan izin Allah.

C. LANGKAH KETIGA: Menjelaskan arti  da’wah yang benar
Kamu jelaskan bahwa ibadah tidak terbatas pada sholat, puasa, zakat dan haji. Akan tetapi mencakup semua segi kehidupan. Mulai dari makan, minum, pakaian, ilmu amal, nikah, olah raga, merawat anak dan lain sebagainya. Perbuatan apapun akan bernilai ibadah jika memenuhi dua syarat: Niat yang ikhlas karena Allah, dan sesuainya perbuatan  tersebut terhadap qaidah syara’.
Allah swt berfirman, ”Katakanlah sesungguhnya sholatku, ibadahku,hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta Alam.”[155]   
D. LANGKAH KEEMPAT: Menjelaskan cakupan ajaran islam.
Hal ini bisa kita jelaskan bahwa Islam itu agama jamaah, aturan hidup, syariat dan negara, jihad dan umat yang satu ... pemahaman yang benar terhadap Islam membebani kita tanggung jawab dan kewajiban yang harus kita tunaikan sebagai pelaksanaan dari perintah Allah agar masyarakat tegak atas dasar qaidah-qaidah agama Islam pada setiap segi kehidupan politik, ekonomi, sosial, syari’at…. [156]    
Sesungguhnya Islam adalah agama yang lengkap, mengatur semua urusan kehidupan, menjelaskan setiap masalah,dan meletakkan aturan yang  pasti, dan detail.[157]  
E. LANGKAH KELIMA: Menjelaskan ancaman yang dihadapi muslimin.
Kita bisa menjelaskan dengan memberitahukannya keadaan kaum muslimin  di seluruh dunia. Fitnah yang mereka hadapi, tekanan, dan makar yang dilakukan oleh musuh mereka mulai dari Yahudi, Nasrani, dan komunis. Bisa juga dengan membaca buku seperti :
-Pemimpin barat mengatakan : Hancurkan Islam dan Musnahkan Pemeluknya.
-Islam dan Beruang Merah
-Apa Kerugian Dunia Karena Kemerosotan Kaum Muslimin
Kita harus menjelaskan bahwa seorang muslim tidak mungkin hidup menyendiri dari kaumnya dan saudara-saudaranya tanpa mempedulikan apa yang terjadi atas mereka. Rasulullah saw bersabda, ”Barang siapa tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka dia bukan termasuk golongan mereka.” Kita harus melanjutkan percakapan dengannya seperti ini sehingga terlahir darinya rasa tanggung jawab terhadap Islam dan Muslimin, serta mempertanyakannya. Apa yang harus kita lakukan? Dari sinilah berawal langkah berikutnya.
F. LANGKAH KEENAM: Menjelaskan kewajban amal untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan mempertahankannya.
Di sini kita harus menjelaskan bahwa Rasulullah saw selama 23 tahun mendidik satu generasi yang bisa menaklukkan dunia seluruhnya. Kita harus jelaskan tahapan-tahapan da’wah mulai dari rahasia, terang-terangan, hijrah, negara dan berangkat untuk menaklukkan dunia seluruhnya. Kemudian kita jelaskan setelah itu bahwa mereka tidak bisa melakukan itu tanpa iman yang memenuhi hati mereka serta aqidah yang kuat yang bersemayam dalam dada mereka.
Kemudian pada tahapan ini kita jelaskan bahwa kita harus menegakkan negara Islam dan mengembalikan khilafah islamiyah setelah dihancurkan oleh musuh-musuh Allah, serta harus kita jelaskan bahwa tanggung jawab menegakkan khilafah itu bukanlah terbatas pada penguasa atau ulama akan tetapi merupakan tanggung jawab setiap muslim dan muslimah yang ada pada saat ini, dan setiap kaum muslimin akan berdosa jika mereka tidak berusaha untuk menegakkan negara islam.
Sangat mungkin seorang pemuda tumbuh pada umat yang tenang dan damai, pemerintahannya kuat, bangunan-bangunan menjulang tinggi. Lalu dia lebih banyak memperhatikan dirinya sendiri  dari pada umatnya, bersantai-santai, membuang-buang waktu tanpa beban dengan perasaan yang tenang. Ada juga pemuda yang tumbuh di lingkungan umat yang sibuk dengan jihad, umatnya ditindas, pemimpinnya otoriter, lalu umat itu berjihad semampunya dalam rangka mengembalikan kebenaran yang terampas, warisan yang dicuri dan kebebasan yang hilang, keagungan yang tinggi dan tauladan yang mulia…saat itulah kewajiban utama seorang pemuda adalah lebih banyak memperhatikan umatnya dari pada dirinya sendiri, ketika melakukan itu dia akan beruntung dengan mendapatkan kebaikan dengan segera di medan pertempuran serta kebaikan yang tertunda di kemudian hari berupa pahala dari Allah swt.[158]
Setelah itu kita harus jelaskan bahwa hal ini tidak akan tercapai kecuali jika kita melaksanakan da’wah kepada Allah di setiap tempat, penjelasan ini bisa dibantu dengan beberapa buku tentang wajibnya da’wah, seperti: Al Muntholaq, Maadza ya’ni intimaai lil Islam dan Da’wah Islamiyah faridhoh syar’iyah wa dhoruroh basyariyah.
Kemudian kita jelaskan bahwa jalan yang benar untuk mengadakan perubahan hanyalah engan da’wah dan tarbiyah…mendidik pribadi muslim kemudian keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintahan muslim kemudian setelah itu khilafah islamiyah kubro yang berusaha untuk merealisasikan bagi Islam sebagai guru bagi dunia yang luas ini.
Kita juga harus menjelaskan bahwa kita tidak dituntut untuk mencapai target tertentu, akan tetapi kita harus melakukan kerja semaksimal mungkin kemudian kemenangan hanyalah dari Allah swt semata, demikian juga kita harus menjelaskan bahwa waktu adalah sebagian dari solusi itu, oleh karena itu kita harus sabar, tabah, bekerja dengan sungguh-sungguh sampai terealisasi yang kita tuju dan menjadi sempurna kemenangan itu.
G. LANGKAH KE TUJUH: Kewajiban amal jama’i.
Kewajiban ini tidak mungkin dilaksanakan secara individual, masing-masing individu tidak akan mampu untuk menegakkan negara islam dan mengembalikan khilafah islamiyah, akan tetapi harus ada jama’ah yang menyatukan usaha individual ini untuk membantu merealisasikan kewajiban yang besar ini, qoidah syara’ mengatakan: “Kewajiban yang tidak sempurna tanpa adanya sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya”, selama kewajiban menegakkan negara islam tidak akan berjalan tanpa adanya jama’ah, maka adanya jama’ah itu menjadi wajib. Tidak terbayangkan sama sekali seseorang akan menjadi sempurna agamanya sedangkan dia hidup menyendiri tanpa beramal dalam suatu jama’ah untuk menerapkan dasar-dasar agamanya itu dan kewajiban-kewajibannya, sedang diantaranya yang terpenting saat ini adalah menegakkan negara islam.[159]
Mungkin di sini akan timbul problem tentang menjauhnya dia dari masalah karena lebih mengutamakan keselamatan dan takut dari cobaan serta ujian, maka sebaiknya mengingatkannya sekali lagi kepada Allah serta kekuasaan-Nya…(ketahuilah bahwa apa yang menimpamu bukanlah untuk menyalahkanmu, dan apa yang menyalahkanmu bukanlah untuk menimpakan cobaan padamu) Allah swt berfirman: “Katakanlah, tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan atas kami, Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang beriman bertawakkal”.[160]
Sekarang timbul pertanyaan…dengan jama’ah manakah saya akan beramal? Sebaiknya jawaban dari pertanyaan itu dalam dua tahap:
H. LANGKAH KE DELAPAN: Kriteria jama’ah yang wajib diikuti.
Sesungguhnya tahapan ini penting dan terinci, serta memerlukan kebijaksanaan dan pengaruh yang kuat dalam menjelaskannya …di dunia sekarang ini banyak sekali terdapat jam’ah dan pergerakan, mengajak para pemuda untuk bergabung kepadanya. Semuanya mengangkat panji-panji islam. Masing-masing jama’ahmempunyai syi’ar dan sarana-sarana untuk menarik para pemuda itu. Seharusnya setiap pemuda muslim memahami bahwa masalah amal untuk islam adalah masalah asasi, dia harus berhati-hati dalam memilih jalan yang akan dia tempuh. Ketentraman lebih utama daripada memilih jalan lain dan memceburkan diri kedalamnya tanpa perhitungan.[161]
Selama kita bertujuan demi untuk menegakkan Islam dan meninggikan kalimah Allah, bertahkim dengan syari’atnya, dan menegakkan negara islam serta khilafah islamiyah…maka amal jama’I yang terstruktur atau jama’ah yang beramal untuk merealisasikan itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
Pertama: Mengembalikan manusia pada umumnya dan para aktifis pada khususnya kepa da pemahaman yang benar, menyeluruh, dan bersih terhadap islam sebagaimana yang dibawa oleh Muhammad saw jauh dari pemahaman yang parsial, penyelewengan atau kesalahan, berlebih-lebihan atau teledor…kaum muslimin berkumpul untuk merealisasikannya tanpa fanatik terhadap satu pendapat atau madzhab, dengan bentuk saling tolong-menolong pada masalah yang disepakati dalam masalah-masalah pokok, dan saling toleransi pada masalah yang diperselisihkan dalam masalah furu’.
Kedua: Dalam manhajnya harus ada penegakan negara islam, khilafah islamiyah; jama’ah manapun yang membatasi diri pada sebagian sisi-sisi Islam atau bahkan semua sisi akan tetapi menjauhi target ini maka kamu tidak layak beramal bersamanya.
Ketiga: Harus menempuh jalan yang benar untuk merealisasikan target ini, tidak ada jalan yang lebih benar daripada jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam menegakkan negara islam yang pertama, yaitu kekuatan aqidah, kekuatan persatuan dan kekuatan lengan dan senjata ketika kekuatan lainnya tidak berarti lagi … harus berurutan sesuai dengan tiga kekuatan tersebut. Karena kalau digunakan kekuatan senjata sebelum kekuatan persatuan sangat memungkinkan untuk terjadinya perang saudara karena beda pendapat… dan tanpa kekuatan aqidah maka amal itu tidak punya dasar yang jelas.
Keempat: Jama’ah seperti ini harus bekerja di seluruh dunia islam semaksimal mungkin, bukan hanya dalam satu benua. Kemudian negara islam yang dicita-citakan harus mempunyai pondasi yang luas yang membentang di wilayah islam, sebagaimana jama’ah ini wajib membangun hubungan dan kerjasama bersama jama’ah lain yang serupa untuk menyatukan usaha para aktifis di lading da’wah islam.
Kelima: Jika ada dua jama’ah yang mempunyai empat kriteria yang sama umpamanya, salah satunya mempunyai pengalaman dan cadangan dalam bidang amal islami, sedang yang satunya masih baru, masih di awal jalan, maka yang lebih utama adalah bergabung dengan jama’ah yang pertama, untuk menghemat waktu, tenaga dan nyawa.[162]
G. LANGKAH KESEMBILAN: Apakah empat kriteria ini terdapat pada jama’ah ini.
Sebaiknya kamu biarkan dia mencari jawaban sendiri dari pertanyaan ini dengan mengarahkan dan menjelaskan hal-hal sulit yang dia dapati.
Sembilan tahapan untuk da’wah fardiah ini, harus berjalan berantai tiap tahapan diikuti tahapan yang lain sampai terealisasi apa yang dituju, segala puji dan karuni hanyalah milik Allah swt.
Ada beberapa pesan penting yang khusus dalam tahapan-tahapan ini, garis besarnya adalah sebagai berikut:
1.     Harus sabar, melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, memantau obyek da’wah dalam waktu-waktu tertentu untuk menjamin keberlangsungan dan terlaksananya program dengan baik serta hasil yang memuaskan.
2.     Orang-orang yang melakukan da’wah fardiah sebaiknya mendapatkan pengarahan sekitar cara dan apa maksudnya serta pelaksanaannya yang berantai.
3.     Para da’i di jalan Allah harus tolong-menolong dalam menghadapi rintangan dan bagaimana melewatinya serta mengambil manfaat dari pengalaman orang lain.
4.     Pada tahapan-tahapan ini kamu bisa memberikan buku-buku, majalah dan yang lainnya untuk dibaca dan kamu minta mereka untuk menanyakan hal-hal yang tidak mereka pahami.
5.     Membantu mereka untuk mengadakan pertemuan sesama mereka untuk pembekalan, penjelasan dan penguatan materi yang telah diasampaikan.
6.     Tahapan-tahapan yang telah disebutkan harus terpatri dalam hati obyek da’wah satu demi satu, karena kalau urutan ini tidak dilakukan mungkin akan menjadi sebab penolakannya.
7.     Keinginan untuk membawa mad’u ke tahapan terakhir tidak diperkenankan menjadi sebab terburu-burunya untuk cepat sampai tanpa penguasaan yang baik dan tenang pada setiap tahapan sebagai langkah preventif agar dia tidak berbalik jika dia mendapati keraguan.
8.     Bersamaan dengan pembersihan jalan da’wah yang sehat dengan segala tuntutan-tuntutannya, lazim dilakukan bantahan terhadap syubhat yang dimunculkan sekitar amal islami dan tuntutannya serta para aktifis sehingga tidak ada lagi bekas-bekas dari keraguan itu.
9.     Lazim menampakkan kebaikan yang besar dan keberuntungan yang besar yang didapat oleh orang yang menyambut seruan da’i Allah, begitu juga bahaya yang besar mengancam orang yang tidak mau menyambutnya... dalam kabar gembira dan ancaman sangat berkesan bagi mad’u terhadap apa yang dikatakan oleh da’i.
10.  Yang sudah siap di antara mad’u itu dan mampu untuk melakukan da’wah fardiah dia diminta untuk memperhatikan poin-poin ini, dijelaskan padanya jalan  untuk mencapainya dan diadakan pemantauan.

SENI BICARA DAN DISKUSI
Tidak diragukan lagi bahwa diskusi adalah sarana terbaik dalam menyampaikan pemikiran kepada obyek da’wahmu, untuk itu kita harus belajar seni berdiskusi, dan bagaimana kita bisa menggulirkan sebuah diskusi dengan sukses yang menjadikan temanmu puas dengan pemikiranmu dan menyebarkannya...Semua tahu bahwa diskusi adalah sebuah seni dan keahlian, di sini akan kita usahakan untuk menjelaskan secara singkat beberapa nasehat untk ikhwah tercinta dalam diskusi, semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dan juga mereka.
1.     Mulailah pembicaraanmu dengan memujinya dan tampakkan bahwa kamu percaya dengan kemampuan-kemampuannya.
Tahukah kamu seandainya kamu mulai pembicaraanmu dengan memujinya dan menyebutkan sifat-sifatnya yang baik yang dia miliki, memperlihatkan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus dari hatimu. Kemudian kamu tampakkan padanya bahwa kamu mengakui kelebihan-kelebihan, dan potensi-potensinya, dan bahwa dia punya potensi untuk melakukan berbagai macam kebaikan...Jika kamu lakukan itu, maka kamu telah mendapatkannya sejak awal perjalanan.
Sesungguhnya ungkapan-ungkapan seperti ini: (Sesungguhnya kamu adalah orang yang berhati baik dan jiwamu penuh dengan kebaikan) (Saudaraku, demi Allah aku mencintaimu karena Allah dan aku menginginkan kebaikan bagimu) (Sungguh aku yakin bahwa kamu layak untuk melakukan semua kebaikan)... di awal pembicaraan akan membukakan jalan baginya untuk bisa menerima pembicaraanmu.
Sangat mungkin bagi siapapun orangnya untuk mengikutimu dengan senang hati jika kamu sampaikan padanya bahwa kamu menghoramatinya hanya karena satu kelebihannya. Jika kamu ingin memberitahu seseorang bahwa dia punya satu kelebihan, maka tinggal menegaskan bahwa sisi inilah yang merupakan potensi kekuatannya...dan sebaiknya kamu selalu menunjukkan padanya bahwa alangkah baiknya kalau orang lain juga mempunyai sifat seperti yang dia miliki.[163]
2.     Mulailah dengan titik persamaan dan jauhilah titik perbedaan.
Ketika turun ayat “Dan peringatkanlah kelurga dekatmu”, Nabi saw naik ke bukit Sofa lalu memanggil keluarga besarnya: “Wahai Bani Fahr...Wahai Bani Ady...sehingga mereka semua berkumpul....lalu beliau bersabda: “Apa pendapat kalian jika aku khabarkan kepada kalian bahwa di lembah itu ada pasukan berkuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian akan membenarkan ucapanku?” Mereka menjawab: “Ya, kami tidak pernah mendapakanmu berdusta”, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian dengan ancaman azab yang besar bagi yang tidak mengikutinya...[164]
Betapa bijaksananya engkau wahai Rasulullah...beliau bertanya kepada mereka satu pertanyaan yang beliau sudah ketahui sebelumnya bahwa jawabannya adalah “ya”, kemudian setelah itu beliau berbicara masalah da’wah... itu adalah cara yang bijaksana, (ketika kamu diskusi dengan seseorang janganlah mulai dengan sesuatu yang kamu berselisih pendapat dengannya, akan tetapi mulailah dengan menekankan persamaan yang ada, dengan demikian kalian punya tujuan yang sama, sedangkan perbedaan satu-satunya antara kalian hanyalah pada sarana bukan pada tujuan.
Biarkanlah orang itu tetap mengatakan “ya” seperti pada awalnya, sebelum dia mengatakan “tidak”,[165] mulailah pembicaraan dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan dia jawab dengan “ya”, setelah itu yakinlah bahwa kamu akan mendapatkan kesuksesan yang besar dengan izin Allah.
3.     Hargailah pemikiran lawan bicaramu, tampakkan penghormatan padanya dan jangan katakan dia salah.
Seandainya kamu mulai pembicaraanmu dengan meremehkan pendapat temanmu, melecehkannya dan kamu katakan padanya dengan emosional, “Kamu salah, pendapatmu ini hanya menunjukkan kebodohan dan kedangkalan pikiranmu...”, kalau kamu lakukan itu apakah kira-kira yang akan terjadi?!
Janganlah kamu memulai pembicaraan kepada lawan bicaramu dengan “saya akan menetapkan ini dan ini bagimu”, karena perkataan itu sama saja dengan mengatakan padanya, “Saya lebih pandai, dan lebih mampu dari pada kamu, saya akan memberikan pelajaran kepadamu untuk menghilangkan apa yang terpikirkan olehmu sekarang”. Ini akan membuatnya melawan dan menolak meskipun kamu belum mulai dengan inti permasalahan.
Apakah kamu ingin belajar ungkapan-ungkapan yang bisa menyihir orang, mencerahkan pembicaraan seketika setelah tadinya jadi keruh, menghembuskan semangat baru, menarik orang lain untuk mendengarkan dengan penuh perhatian... Yaitu: Katakan kepada lawan bicaramu , “Sungguh saya tidak mencelamu dengan sikapmu yang seperti ini, kalau seandainya saya mengalami apa yang kamu alami tentu saya tentu saya merasakan seperti apa yang kamu rasakan dan saya mengambil sikap sebagaimana yang kamu ambil”.
Jika temanmu mengatakan sesuatu yang kamu anggap salah –atau bahkan kamu yakin dia salah- bukankah lebih baik kamu katakan padanya, “Saya berpendapat lain, mungkin saya salah, sebagaimana saya telah banyak salah...jika saya salah saya akan senang kalau kamu meluruskannya, selam untuk mencari kebenaran”... Percayalah kamu tidak akan mendapatkan kesulitan selama kamu mengatakan mungkin kamu salah, ini akan menjadi jaminan untuk tidak terjadi debat, menumbuhkan pada diri lawan bicaramu rasa keadilan. Lalu dia akan berusaha untuk mengambila sikap yang sama dan dia akan dengan sadar merasa bahwa pendapatnya salah.[166]
Jadikanlah temanmu selalu merasa bahwa kamu menghargai pendapat-pendapatnya dan cenderung pada pemikirannya...kemudian tunggulah hasilnya.
4.     Janganlah berdebat
Abu Umamah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “
Pemahaman dan hikamah apakah yang engkau ucapkan wahai Rasulullah saw, jika engkau bicara pada obyek da’wahmu tidak penting bagimu untuk memenangkan diskusi atau debat, yang penting bagimu menundukkan hatinya lebih dahulu, setelah itu engkau akan bisa menguasai pembicaraan dengan mudah.
Jika kamu berdebat, menentang dan menyalahkan, mungkin suatu saat kamu bisa menang, akan tetapi itu adalah kemenangan yang semu dan tak berarti, karena kamu akan rugi, hilangnya hubungan baik dengan lawan bicaramu... Mana yang kamu pilih; kemenangan semu atau hubugan baik dengan orang itu?...Karena sangat jarang terjadi bisa mendapatkan keduanya.
Anggaplah kamu bisa melawan pembicaraan orang yang kamu debat, kamu runtuhkan argumen-argumennya dan kamu lecehkan kata-katanya, apakah yang akan terjadi? Mungkin kamu merasa puas, akan tetapi apa yang dia rasakan? Dia sama sekali tidak akan pernah menyerah selamanya, karena kamu telah melukai perasaan dan harga dirinya serta kamu kandaskan argumen-argumennya.
Ada sebuah hikmah yang diriwayatkan:
“Seseorang yang dipaksa untuk meyakini sesuatu yang bukan keyakinannya, dia akan tetap dengan keyakinannya yang pertama”.[167]
Mari kita dengarkan Imam Syahid Hasan Al-Banna menunjuki jalan itu, katanya: “Janganlah kamu banyak berdebat dalam masalah apapun...karena tidak akan membawa kebaikan”.[168]
5.     Jika kamu salah akuilah kesalahanmu.
Allah swt menyebutkan kriteria orang-orang munafik dalam firman-Nya: “Dan jika dikatakan kepada mereka bertaqwalah kepada Allah, kesombongannya membuatnya berbuat dosa...maka cukuplah baginya neraka jahannam, itulah seburuk-buruk tempat kembali”.[169]
Tingkatan keberanian dan akhlaq yang tertinggi adalah mengakui kesalahan. Adapun jika kamu sampai berbuat dosa karena kesombonganmu dan menolak untuk mengakui kesalahan meskipun kamu tahu, maka ini adalah salah satu sifat orang munafik.
Hanya orang bodohlah yang dengan gigih mempertahankan kesalahannya, adapun jika kamu mengakui kesalahanmu, itu adalah jalan untuk meningkatkan diri ke derajat yang lebih tinggi beberapa derajat. Kalau kita tahu bahwa kita akan kalah bagaimanapun keadaannya, bukankah lebih baik kita mendahuluinya untuk menyerah? Bukankah lebih baik kita mendengarkan kritikan dari diri kita sendiri dari pada harus diam mendengarkan kritikan orang lain.
Saudaraku, jika kamu ingin menyampaikan fikrohmu dalam keadaan bersih kepada temanmu, akuilah akuilah kesalahanmu jika salah,...“seringlah bicara tentang kesalahan-kesalahanmu sebelum mengkritik orang lain, dan percayalah tidak akan tersa berat bagimu mendengarkan kesalahan-kesalahanmu dibeberkan jika orang yang mengkritikmu memulainya dengan mengakui bahwa dia tidak terpelihara dari kesalahan.”[170]
6.    Janganlah marah dan lemah lembutlah dalam berbicara.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa seorang lelaki berkata kepada rasulullah saw berilah aku     wasiat. Rasulullah bersabda :”Janganlah marah”, beliau ulangi beberapa kali.
Dari Aisyah r.a. dia berkata: Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhya Allah swt lembut, mencintai kelembutan dalam semua urusan”.[171]
Dari Abu Mas’ud r.a. dia berkata: Rasulullah saw bersabda: ”Maukah kalian saya beritahukan tentang orang yang diharamkan masuk neraka.[172]
Sesungguhnya jika kamu marah kepada temanmu, masihkah kamu melihat jalan untuk bisa menaklukkannya? Sesungguhnya satu titik kemarahan akan merusak pembicaraan, membangkitkan kemarahan temanmu dan menghalanginya untuk bisa menerima pendaatmu meskipun itu benar.
Bayangkanlah pembicaraan yang lemah lembut, dipenuhi dengan senyuman yang manis lagi murni kamu tampakkan tanda-tanda cinta dan kasih sayang. Bukankah ini seribu kali lebih baik daripada kamu marah pada temanmu dan dia marah padamu.
Anggaplah dia marah padamu dan memancing kemarahanmu, tetaplah lemah lembut, kuasai dirimu saat marah padamu dan ingatlah sabda rasulullah saw : “Bukanlah yang kuat itu dalam perkelahian, orang yang kuat adalah yang menguasai dirinya saat marah”.[173]
Sesungguhnya orang yagn paling keras tabiatnya dan kasar dalam bicara dia akan menjadi lemah dihadapan pendengar yang sabar dan lemah lembut, pendengar yang baik.
Jika lawan bicaranya yang pemarah mulai menyerang seperti ular yang menyemburkan racun ke sana kemari.[174]
7.     Biarkanlah temanmu menguasai pembicaraan
Kebanyakan manusia mengira bahwa sebaik-baik jalan untuk memuaskan lawan bicaranya dengan argumen-argumennya adalah menguasai pembicaraan dan kebanyakan orang yang terjatuh dalam kesalahan ini adalah orang-orang yang sibuk. Para pedagang bahkan yang lebih cerdik, adalah membiarkan orang lain untuk menguasai mayoritas pembicaraan, pancinglah dia untuk bicara dengan pertanyaan-pertanyaan dan biarkan dia menampakkan semua kemampuannya.
Mungkin kamu ingin memotong pembicaraannya akan tetapi jangan kamu lakukan selama pembicaraannya belum habis bahkan diamlah dan perhatikan dengan sabar dan pahami, doronglah dia untuk mengungkapkan pendapat-pendapatnya dengan bebas.[175]
8.     Biarkanlah temanmu merasa bahwa pemikiran itu adalah dari pemikirannya. Bukankah kamu    merasa lebih bangga dengan pendapat-pendapat yang kamu dapatkan sendiri daripada kebanggaanmu dengan pendapat-pendapat yang disampaikan padamu dalam ruang yang megah? Jika demikian halnya, mengapa kamu berusaha untuk memaksakan pendapat-pendapatmu kepada orang lain? Bukankah lebih cerdas mengarahkan kepadanya usulan-usulan dan membiarkannya untuk sampai pada pendapat yang kita inginkan dengan sendirinya.[176]
9.     Jadikanlah dia menyenangi pekerjaan yang kamu usulkan kepada teman-temanmu. Mulailah         pembicaraan selalu dengan menyebutkan keutamaan pekerjaan yang kamu ajak dia untuk melakukannya, umpamanya katakan padanya (tahukah kamu keutamaan membaca Al-Qur’an? Setiap huruf Al-Qur’an ada sepuluh kebaikan, bayangkanlah setiap huruf dengan sepuluh kebaikan yang sempurna, mengapa tidak kita baca bersama? )
 Percayalah, jika kamu lakukan itu, maka dia akan segera melakukanya tanpa kamu suruh,  mulailah dengan kabar gembira, gembira bukan dengan ancaman, karena kabar gembira mempunyai efek yang baik dalam hatinya, janganlah mulai pembicaranmu dengan mengatakan “Jika kamu tidak membaca Al-Qur’an maka kamu telah menjauhinya dan akan mendapatkan azab dari Allah swt”, hal ini akan menjauhkan kalian berdua. Jadikanlah temanmu kuat untuk mengerjakan apa yang kamu usulkan dan mulailah dengan memotivasinya.
10.  Janganlah memberikan perintah, akan tetapi ajukan usulan-usulan yang cerdas. Kalau kamu    Ingin mengajak temanmu untuk membaca Al-Qur’an atau shalat di mesjid umpamanya, katakan kepadanya dengan lemah lembut; “Bukankah sebaiknya kamu membaca Al-Qur’an setiap hari.” “Bukankah shalat di masjid lebih utama daripada shalat di rumah.” “Mengapa kita tidak mengadakan kesepakatan bersama untuk mengahapal satu surat dari Al-Qur’an.”…Bukankah ini seribu kali lebih baik daripada menyuruhnya langsung, karena hal itu bisa membuatnya lari dan tidak mematuhi perintahmu. Sesungguhnya manusia itu selalu merasa berat untuk melaksanakan perintah orang lain, lalu mengapa kita tidak jadikan perintah itu seakan-akan usulan yang cerdas.
11.  Pujilah karena sedikit kebaikan yang dia lakukan dan ingatkanlah kesalahannya dengan cara yang halus.
Jika kamu mengajak seseorang untuk shalat di masjid lalu dia menurutimu dan pergi bersamamu akan tetapi dia melakukan kesalahan dalam shalat…apa yang akan kamu lakukan?
Bisa saja kamu mengingatkannya setelah keluar dari masjid dengan mengatakan kepadanya “Apakah kamu tidak belajar shalat lebih dulu! Orang sebesar kamu tidak tahu bagaimana melakukan shalat ?” Kamu bisa melakukan itu akan tetapi percayalah dia tidak akan pergi lagi  ke masjid. Kamu harus memuji apa yang telah dia kerjakan dengan mengatakan “Lihatlah saudaraku betapa indahnya shalat di masjid, kita sekarang berjalan, tiap langkah kita ditulis sebagai satu kebaikan”. “Kamu sudah melakukan shalat dengan baik dan khusyu, sedangkan khusyu adalah ruhnya shalat”…Kemudian kamu alihkan pandangannya pada kesalahan-kesalahannya dengan cara yang halus: ”Akan tetapi jika kamu membaca Al-Qur’an lakukanlah begini…dan jika kamu sujud janganlah seperti ini…” Bukankah ini seribu kali lebih baik.
Sesungguhnya tabiat jiwa manusia senang pujian dan benci celaan, lalu mengapa kamu tidak memulai dengan apa yang disenangi orang itu, kemudian kita alihkan pandangannya pada hal yang dia benci dengan cepat dan cerdik.
12. Jangan banyak debat sehingga temanmu tidak bosan.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. dia berkata Rasulullah saw memberi sedikit nasehat karena takut membosankan.”[177]…janganlah kamu selalu mengajaknya berdiskusi setiap kali bertemu, karena akan menjadikannya bosan, akan tetapi lakukanlah sekali-kali.
Sebaiknya kamu mendorongnya untuk membuka pembicaraan kemudian biarkanlah dia berbicara sesuai dengan pendapatnya, lalu kamu komentari dengan singkat dan jelas.
13. Waspadailah bahaya lisan
Dalam akhir hadits yang diriwayatkan Mua’adz, Rasulullah saw bersabda: “Cukup sampai disini”, Saya berkata, “Wahai rasulullah, apakah kami akan di azab karena perkataan kami?”, Beliau menjawab, “...bukankah manusia berjalan dengan muka mereka, karena perkataan mereka?[178]...Untuk ini kamu harus waspada terhadap bahaya lisan –sedangkan bahayanya banyak sekali- dalam diskusi dengan temanmu...hindarilah perkataan yang tak berguna, perkataan jorok, umpatan, hindarilah banyak canda, ejekan dan hinaan terhadap orang-orang yang beriman, janganlah menyebarkan rahasia orang lain dan mengingkari janji...akan tetapi ada yang lebih wajib kamu hindari, yaitu: bohong dan ghibah, karena keduanya penyebab kehancuran.
Dari ‘Aisyah ra dia berkata: Saya berkata kepada Nabi saw, “Cukup sampai disini dengan Shofiah, karena dia begini dan begini -(dia berkata ghibah)- lalu Rasulullah saw bersabda: “Sungguh kamu telah mengatakan satu perkataan seandainya dicampur dengan air laut maka akan merata”.[179]
Dari Ibnu Mas’ud ra dia berkata, “ Rasulullah saw bersabda: “...kebohongan itu menunjuki kepada kejahatan, sedang kejahatan mengarahkan ke neraka, sesungguhnya seseorang akan berbohong sampai Allah menuliskan di sisi-Nya sebagai seorang pembohong”.[180]
Mari kita dengarkan menerangkan kepada kita, katanya ”jauhilah menghibah orang-orang dan lembaga-lembaga, janganlah bicara kecuali yang baik-baika”.[181]
14. Bicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan berpikir mereka.
Rasulullah saw bersabda : ” Bicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan berpikir mereka”.[182]
15. Mintalah bantuan ikhwanmu yang lebih berpengalaman saat dibutuhkan.
Janganlah kamu menganggap bahwa kamu tahu segalanya, jika ditanya satu masalah yang tidak kamu ketahui atau kamu kesulitan untuk menjawabnya dengan argumen yang memuaskan, sebaiknya menunda jawaban dengan meminta bantuan ikhwan yang lebih berpengalaman untuk menjawabnya.
Lebih baik lagi kalau pertemuan dengannya bisa tampak seakan suatu kebetulan bukan suatu hal yang direncanakan, bisa dengan mengajaknya mengunjungi salah seorang ikhwanmu, mengatur pertemuan di fakultas, atau di masjid dan seakan pertemuan itu tidak disengaja.
Sesungguhnya ikhwanmu selalu siap membantumu....mengapa tidak minta bantuan mereka?







[1] DR. Shodiq Amin, Da’wah Islamiyah, hal. 16-17
[2] Ibid.
[3] QS. Thoha:123
[4] QS. Ali Imran:104
[5] DR. Shodiq Amin Op. Cit.
[6] Fathurrabbani hal. 211
[7] Munthalaq hal.141
[8] Ibnu Qoyim Al-Jauziyah, Al-Wabilush Shoyib hal. 27
[9] Mustofa Masyhnur, Al-Qudwah ‘ala thoriq da’wah hal. 51
[10] Sa’id Ramadhan, Khawathir hal. 72
[11] Al-Ghazali, Ihya jilid 4
[12] Sanadnya setara dengan Syarat Muslim
[13] HR. Abu Daud dan Nasa’i dari Muadz
[14] HR. Thabrani, Ahmad dan Baihaqi
[15] Imam Al-Banna, Risalatut Ta’alim
[16] Mustofa Masyhur, Op. Cit. Hal. 153
[17] Sayid Qutb, Afrah Ruh hal. 14
[18] Abdul Karim Zaydan, Ushulud Da’wah hal. 274
[19] HR. Bukhari dan Tirmidzi
[20] Jum’ah  Amin, Ad-Da’wah Qowaid wa Ushul hal. 113
[21] QS. An-Nahl:39
[22] QS. Al-Qashash:26
[23] QS. Hud:88
[24] QS. Al-Anbiya:107
[25] HR. Muslim
[26] HR. Muslim dan Tirmidzi dari Ibnu Abbas
[27] Abdul Karim Zaydan, Op. Cit. Hal. 47
[28] QS. At-Taubah:128
[29] QS. Al-Kahfi:6
[30] QS. Asy-Syura:48
[31] QS. Al-Baqarah:272
[32] QS. Al-Anfal:36
[33] QS. Al-Mujadalah:21
[34] Muhammad Al-Ghazali, Dirasat fi Da’wah wa Du’at hal. 9
[35] Jum’ah Amin, Op. Cit. Hal. 71
[36] HR. Abu Nu’aim fil Hiyah dan Baihaqi fi Zuhd
[37] Jum’ah Amin, Op. Cit. 110
[38] Sayid Qutb, Fi Dzilalil Qur’an jilid 1 hal. 68
[39] QS. Ash-Shaf:2-3
[40] QS. Al-Baqarah:44
[41] Muttafaq Alaih
[42] Jum’ah Amin, Op. Cit. Hal. 115
[43] Mustofa Masyhur, Op.Cit. hal. 156
[44] Jum’ah Amin,  Op. Cit. Hal. 118
[45] Ibnu Mubarak, Kitab Zuhd hal. 390
[46] Sayid Qutb, Op. Cit. Hal. 12
[47] Mustofa Masuhur, Op. Cit. Hal. 46
[48] HR. Thabrani
[49] Sayid Qutb, Op. Cit. Hal. 13
[50] QS. Al-Hujurat:13
[51] Shofwatut Tafasir jilid 3 hal. 236
[52] Hasan Al-Banna, Sepuluh wasiat
[53] QS. Asy-Syu’ara:214
[54] Munir Al-Ghodban, Manhaj Haraki hal. 23-24
[55] Abbas Assisi, Op. Cit hal. 33-36
[56] Dael K., Op. Cit. Hal. 88
[57] Ibid.
[58] Abbas Assis, Op. Cit. Hal. 32
[59] Dael K., Op. Cit. 87
[60] Munir Al-Ghodaban, Op. Cit. Hal. 21-22
[61] HR. Bukhari dan Muslim
[62] Abbas Assisi,Op. Cit. Hal. 22-23
[63] HR. Bukhari dan Muslim
[64] Abbas Assisi, Op. Cit. hal. 23
[65] Ibid.
[66] Munir Al-Ghodban, Op. Cit. hal. 84
[67] DR. Majdi Al-Hilali, Adhwa’ Ala thoriq Da’wah hal. 14
[68] Mustofa Masyhur, Da’wah Fardiah hal. 11
[69] Jum’ah Amin, Da’wah: qowaid wa Ushul hal. 123
[70] DR Majdi Alhilali, Adhwa Ala Thoriq Da’wah hal. 23
[71] Abbas assis, Thoriq ilal qulub hal. 21
[72] QS. Ali Imron: 159
[73] Jum’ah Amin, Da’wah: Qowaid wa ushul hal. 123
[74] Mustofa Masyhur, Da’wah Fardiah hal. 11
[75] HR Muttafaq Alaih
[76] QS. Al Maidah: 54
[77] Ibnu Rojab Al Hambali, Jami’ Ulum wal Hikam
[78] Ibid.
[79] Ibid.
[80] HR. Ahmad dari Amr bin Jamuh
[81] HR. Bukhori dari Abu Hurairah
[82] Ibnu Rojab Al Hambali Op. Cit.
[83] Ibnu Qayim, Aljawab alkafi
[84] Ibid
[85] Ibid
[86] Ibid
[87] Ibid
[88] Sayid Qutb, Afrah ruh hal. 10
[89] HR  Bukhori

[90] Abbas Assisi Op. Cit.
[91]QS. Annisa: 94
[92] Sayid Qutb, Op. Cit.
[93] DR. Majdi Al Hilali Op. Cit.
[94] HR. Abu Dawud
[95] HR. Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah
[96] Adhwa- ‘ala thoriq da’wah

[97] HR. Hakim
[98] Ibnu Qoyyim. Al jawab Al Kafi 10
[99] HR. Tirmidzi
[100] Abbas Assisi Op. Cit. 73
[101] Dael K Op. Cit. 71
[102] Dael K Op. Cit. 71
[103] Abbas Assisi Op. Cit.  73
[104] HR Muslim
[105] Abbas Assisi Op. Cit. 95
[106] HR Muslim
[107] HR. Abu Daud
[108] HR. Muttafaq alaih
[109] HR. Muttafaq alaih
[110] Qs An Nisa 86
[111] Abbs  Asisi -Attoriq
[112] QS. Al Hujurat:11
[113] Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 364, HR. Ahmad.
[114] Sayid Qutb tafsir surat Al Hujurat
[115] HR. Ibnu Hatim dari Muqotil bin Hayan
[116] QS. Al Mujadalah:11
[117] Abbas Asissi Op. Cit. 97
[118] HR. Hakim
[119] Dael K Op. Cit. 58
[120] Ibid 62
[121] Ibid 69
[122] HR Muslim dari abu Huroiroh
[123] Dael K Op. Cit. 99
[124] Ibid
[125] HR Muttafaq alaih dari Ady bin Hatim
[126] Dael K Op. Cit.
[127] HR Muslim
[128] Muttafaq Alaih
[129] HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah
[130] HR. Bukhori dan Baihaki
[131] Muttafaq ‘Alaih
[132] Ibnu Mundzir, Al Asyraf jilid 1 Halaman 442
[133] Dael K Op. Cit. 64
[134] HR Thabrani dari hadits Umar
[135] HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shohihnya
[136] HR. Muslim
[137] Abbas Assisi Op. Cit. 69
[138] Ustadz Umar Tilmisani, Buku Harian (dinukil dari Thoriq ilal Qulub, 70)
[139] Abbas Assisi Op. Cit. 62
[140] Qs An Nahl 78
[141] Abbas Assis Op. Cit. (tidak saya dapatkan dalam kitab hadits)
[142] Qs.Taubah: 118
[143] Abbas Asisi
[144] HR Baihaqi
[145] HR. Ahmad dan Abu Daud
[146] HR.Abu Daud dan Tirmzi dan Ahmad
[147] H.R. Abu Daud
[148] Abbas assis Op. Cit.
[149] H.R. Ahmad
[150] H.R. Tirmidzi dan Ahmad
[151] Mustofa Masyhur, Op. Cit. hal.  13
[152] QS.Az -zumar 23.
[153] Mustofa Masyhur, Op. Cit.
[154] QS. An-Naml:59-65
[155] QS. Al-An’am:162
[156] Mustofa Masyhur, Op. Cit. hal. 18
[157] Imam Al-Banna, Risalatu Da’watina hal. 23
[158] Imam Albanna, Op. Cit. hal. 97
[159] Mustofa Masyhur, Op. Cit. hal.20
[160] QS. At Taubah:51
[161] Mustofa Masyhur, Op. Cit. hal. 21
[162] Mustofa Masyhur, Tasaulat alat toriq hal. 27-31
[163] Dael K., Op. Cit.
[164] HR. Bukhori dari Ibnu Abbas
[165] Dael K., Op. Cit.
[166] Ibid.
[167] Ibid
[168] Hasan Al Banna, Op. Cit.
[169] QS. Al Bqoroh: 206
[170] Dael K., Op. Cit.
[171] Muttafaq alaih
[172] H.R. Tirmizi
[173] H.R. Bukhori, Muslim, Malik di Muwatho, dan Ahmad
[174] Dael. K. Op. Cit.
[175] Ibid.
[176] Ibid.
[177] HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi dan Ahmad dalam Musnadnya
[178] H.R. Ibnu Abi Dun-ya dan dihasankan oleh Al-‘Iroqy
[179] H.R. Abu Daud dan Tirmidzi
[180] Muttafaq ‘Alaih
[181] Hasan Al Banna, Op. Cit.
[182] Tidak saya dapatkan dasarnya.

UKMI-JNI (Merajut Ukhuwah Menuju Satu Jama'ah) Designed by Templateism.com Copyright © UKMI-JNI (Merajut Ukhuwah Menuju Satu Jama'ah). All rights reserved.

Diberdayakan oleh Blogger.